<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pabelanpos's Weblog</title>
	<atom:link href="http://pabelanpos.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pabelanpos.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jun 2008 11:35:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='pabelanpos.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/7d75a2c03cf42b9a9f568f0c919d104f?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pabelanpos's Weblog</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Sport Junkis dan Elegan</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/sport-junkis-dan-elegan/</link>
		<comments>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/sport-junkis-dan-elegan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 11:35:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pabelanpos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Otomotif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pabelanpos.wordpress.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Motor garang jadi Sport Junkis dan Elegan, kesan itulah yang mencoba diciptakan Arnomo Sedayu, mahasiswa Teknik Mesin pada rubrik otomotif Pabelan Pos edisi 80 ini. Hal ini diambil untuk menghapus image kebanyakan orang yang menganggap motor Rx-King identik dengan motor &#8216;jambret&#8217;. “Sebenarnya motor Rx-King juga bisa dibuat kesan manis,” ungkap Arnomo saat ditemui Pabelan Pos [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=86&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><span style="color:#888888;">Motor garang jadi Sport Junkis dan Elegan, kesan itulah yang mencoba diciptakan Arnomo Sedayu, mahasiswa Teknik Mesin pada rubrik otomotif Pabelan Pos edisi 80 ini. Hal ini diambil untuk menghapus image kebanyakan orang yang menganggap motor Rx-King identik dengan motor &#8216;jambret&#8217;. “Sebenarnya motor Rx-King juga bisa dibuat kesan manis,” ungkap Arnomo saat ditemui Pabelan Pos di bengkel biasa dia nongkrong.<br />
Sebenarnya hanya mengurusi masalah warna sudah cukup untuk ciptakan kesan itu, tapi tidak untuk cowok asal Tegal ini. Banyak hal yang meski ia lakukan agar tujuanya tercapai.<br />
Tahap awal, Arnomo mengganti slebor depan standart milik Jupiter Mx. Hal ini dilakukan agar slebor depan terlihat lebih marapat dengan roda. Selanjutnya untuk pelek-pelek dipasang racing, ukuran ring 17 untuk depan dan ring 18 untuk belakang yang sekaligus dengan pemasangan cakram, yaitu cakram depan set bercaliper brembo dua piston dan cakram belakang piringan milik Satria. Masih masalah kaki-kaki, untuk roda Arnomo menggunakan ban mizzle 80-80 untuk depan dan 90-80 untuk belakang. Agar body pengendara lebih terlihat naik saat berkendara, ia mengganti stank orisinil dengan stank milik Ninja. Hal ini akan membuat bodi motor terlihat lebih tinggi depan dari pada belakang. Kaki-kaki depan selesai kini tinggal mengurusi kaki-kaki belakang.<br />
Shock breaker standar kurang puas nampaknya bagi Arnomo jika tidak ikut di modif, dengan itu ia memasang  ayun type super track yang kemudian di coak beberapa centimeter, hal ini mengharuskan rantai dipotong empat mata. Dengan pemotongan ini secara otomatis roda belakang akan menjorok kedepan beberapa centimeter. Nah, akhirnya memasuki tahap finishing yaitu permak warna. shock breaker KYB. Swim arm pun juga meski dirubah, ia gunakan lengan ayun type super track yang kemudian di coak beberapa centimeter, hal ini mengharuskan rantai dipotong empat mata. Dengan pemotongan ini secara otomatis roda belakang akan menjorok kedepan beberapa centimeter. Nah, akhirnya memasuki tahap finishing yaitu permak warna.<br />
Untuk memperoleh warna yang bervariasi Arnomo ambil tiga warna untuk tiap-tiap bagian. Pertama, body termasuk slebor (depan dan belakang, red) di cat warna picanto green. Warna ini akan terlihat yellow effec ketika terkena sinar matahari. Yang kemudian dimotif warna putih bergaris, ini membuat body collour tidak monoton. Kedua, rangka, shock, dan pelek-pelek dipoles warna doff tefflon. Warna yang menjadi andalan modif Arnomo pada modifikasinya kali ini. Sebagai pemanis Arnomo menambahkan warna merah venture pada bagian sirip-sirip mesin, shock breaker, dan caliper cakram belakang Rx-King milik cowok berbadan tinggi ini sudah hampir terkesan manis sampai pada tahap ini. Untuk pelengkap ia memasang beberapa accessories seperti head lamp milik Scorpio, speedometer tipe R, handle rem brembo, knalpot PDK, master gas Daytona dan pada stank dipasang stabilizer. Terakhir jok dikepras empat centimeter guna merampingkan sisi atas body. Akhirnya pengeprasan jok mengakhiri tugasnya. Rx-King standar dan kesan motor jambret kini telah berhasil di sihir Arnomo menjadi motor Sport Junkis dan Elegan.jambret kini telah berhasil di sihir Arnomo menjadi motor Sport Junkis dan Elegan.<br />
Semua hasil ini dilakukan Armono tidak hanya sekedar cuma-cuma, butuh usaha dan karja keras. Butuh biaya sekitar 2,5 jutaan untuk menyempurnakanya, ”Semua biaya  untuk modifikasi ini hasil usahaku mengumpulkan sisa uang saku kuliah,” paparnya.<br />
Arnomo patut bangga dengan hasil modifikasinya kali ini, karena di akhir tahun 2007 lalu sempat menjadi trend setter di salah satu majalah otomotif, dan ia pun berhasil menyabet juara II maskot club yang diadakan oleh salah satu produk rokok yang cukup terkenal belum lama ini. Terlebih yang membuat ia bangga adalah ketika cat doff tefflonnya menjadi trend para pecinta modif saat ini.(Dwie)</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pabelanpos.wordpress.com/86/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pabelanpos.wordpress.com/86/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pabelanpos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pabelanpos.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pabelanpos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pabelanpos.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pabelanpos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pabelanpos.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pabelanpos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pabelanpos.wordpress.com/86/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pabelanpos.wordpress.com/86/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pabelanpos.wordpress.com/86/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=86&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/sport-junkis-dan-elegan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16921a19361490afc8e11752de6d2788?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pabelanpos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kampung Laweyan Seanggun Batiknya</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/kampung-laweyan-seanggun-batiknya/</link>
		<comments>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/kampung-laweyan-seanggun-batiknya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 11:32:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pabelanpos</dc:creator>
				<category><![CDATA[jelajah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pabelanpos.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Kampung Batik Laweyan memang sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tepatnya pada tahun 1546 M. Selain dikenal sebagai sentra batik, Laweyan juga terkenal dengan kelahiran tokoh besar seperi KH Samanhadi pendiri Serikat Dagang Islam (SDI) dan raja-raja Mataram. Tidak heran kalau kawasan ini dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Suasana di Kampung Batik Laweyan sebenarnya tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=85&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Kampung Batik Laweyan memang sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tepatnya pada tahun 1546 M. Selain dikenal sebagai sentra batik, Laweyan juga terkenal dengan kelahiran tokoh besar seperi KH Samanhadi pendiri Serikat Dagang Islam (SDI) dan raja-raja Mataram. <span id="more-85"></span>Tidak heran kalau kawasan ini dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Suasana di Kampung Batik Laweyan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kampung-kampung lainnya di Kota Solo, lengang, dan seolah-olah tidak ada sesuatu yang menonjol. Kalau kita berkeliling di kawasan Laweyan, terdapat banyak lorong-lorong sempit yang hanya cukup dilalui oleh sepeda motor. Lorong tersebut diapit oleh  pagar tembok yang tingginya 3 sampai 5 meter, dibalik tembok tersebut terdapat rumah-rumah mewah dengan arsitektur yang menawan. Menelusuri lorong-lorong sempit disini menjadi keasyikan tersendiri bagi para wisatawan. Kita seolah-olah berjalan diantara monumen sejarah kejayaan para pedagang batik tempo dulu. Banyak bangunan tua di kampung ini yang masih terawat, tidak sedikit pula yang sudah usang ditelan waktu. Mengitari Kampung Batik Laweyan kita akan menemui beberapa bangunan unik yang sengaja diperuntukkan bagi wisatawan untuk singgah sejenak selama perjalanan, tidak hanya itu informasi seputar pengelolaan limbah industri batik terpampang disebuah persimpangan jalan.<br />
Kampung Laweyan identik dengan kerajinan batik tradisionilnya, sebab ditengah kemajuan teknologi yang semakin canggih, masih banyak pengusaha batik disini yang menggunakan cara-cara dan peralatan tradisionil dalam memproduksi kain batik. Walaupun masih menggunakan peralatan tradisionil, kualitas batik Laweyan sudah tidak diragukan lagi. Kesibukan para pengrajin batik baru terlihat ketika masuk kedalam rumah-rumah yang memproduksi batik, dari yang muda hingga orang tua terlarut dalam suasana kekeluargaan. Mulai bahan baku hingga barang jadi semua diproses secara tradisionil oleh tangan-tangan orang pribumi. Perlahan dan penuh kehati-hatian dalam setiap proses membatik nampak dari para pekerja. Wajah penuh keseriusan pun terlihat jelas disana. Memang dalam hal membatik, ketelitian seorang pembatik sangat diuji karena menyangkut kualitas dari batik itu sendiri. Walaupun demikian, pengrajin kain batik tradisionil disana tetap ramah menyapa wisatawan yang berkunjung seperti orang Jawa pada umumnya.<br />
Sangat disayangkan, eksistensi kerajinan Batik Laweyan dari waktu ke waktu mulai terkikis oleh zaman, apalagi di era globalisasi seperti saat ini banyak dari para pengusaha batik yang mulai gulung tikar akibat ketatnya persaingan usaha dan trend yang selalu berubah. Keberadaan para pengusaha batik tradisionil di Laweyan saat ini mulai tersisih oleh kehadiran batik modern berskala besar.<br />
Perlahan namun pasti kehadiran mereka semakin mempersulit usaha kerajinan batik tradisionil untuk berkembang. Karni, salah seorang pengusaha batik tradisionil Laweyan mengatakan “remaja sekarang memandangan pekerjaan membatik dijadikan sebagai mata pencaharian.” Padahal dibalik itu semua ada nilai luhur yang terkandung didalam seni membatik yang mesti dijaga dan terus dilestarikan, tuturnya. Kepastian dalam hal finansial menjadikan alasan tersendiri bagi remaja Laweyan untuk lebih memilih bekerja di perusahaan batik modern berskala besar daripada harus bersusah payah memegang cating dan melukiskannya dilembaran-lembaran kain putih.<br />
Karni yang sudah merintis usahanya sejak tahun 1993 ini juga mengeluhkan kurangnya perhatian dari pemerintah setempat akan keberlangsungan usaha batik tradisionil. “hingga saat ini belum ada perhatian yang serius dari pemerintah dalam bentuk pemberian modal usaha bagi pengrajin baitk tradisionil,” terangnya.<br />
Keindahan batik Laweyan tidak seindah kisah para pengrajin batik didalamnya, namun di tangan mereka-lah kesenian luhur bangsa ini ditentukan. Tinggal bagaimana kita sebagai generasi penerus untuk tetap melestarikannya.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pabelanpos.wordpress.com/85/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pabelanpos.wordpress.com/85/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pabelanpos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pabelanpos.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pabelanpos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pabelanpos.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pabelanpos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pabelanpos.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pabelanpos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pabelanpos.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pabelanpos.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pabelanpos.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=85&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/kampung-laweyan-seanggun-batiknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16921a19361490afc8e11752de6d2788?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pabelanpos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abdi Intelektual Merakyat</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/abdi-intelektual-merakyat/</link>
		<comments>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/abdi-intelektual-merakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 11:29:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pabelanpos</dc:creator>
				<category><![CDATA[insight]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pabelanpos.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Atribut kaum intelektual yang disandang mahasiswa mempunyai peran sebagai agen perubahan dalam masyarakat bahkan bangsa. Akan tetapi, atribut tersebut ternyata tidak lepas dengan citra negatif mahasiswa yang suka membuat keributan dan kerusakan dalam menyelesaikan masalah. Menjadi agen yang langsung bersentuhan langsung dengan masyarakat pun menjadi terasa jauh karena mahasiswa masih menemui kebingungan di lapangan. Namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=83&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Atribut kaum intelektual yang disandang mahasiswa mempunyai peran sebagai agen perubahan dalam masyarakat bahkan bangsa. Akan tetapi, atribut tersebut ternyata tidak lepas dengan citra negatif mahasiswa yang suka membuat keributan dan kerusakan dalam menyelesaikan masalah. Menjadi agen yang langsung bersentuhan langsung dengan masyarakat pun menjadi terasa jauh karena mahasiswa masih menemui kebingungan di lapangan. Namun setidaknya, niat mulia untuk mengubah masyarakat menjadi lebih baik dapat ditunjukkan dengan berbagai cara yang baik pula.</strong><span id="more-83"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">Oleh: Tarmiyanti dan Asep</span></p>
<p style="text-align:justify;">Jikalau seorang sadar bahwa ia hidup dalam masyarakat, pastilah akan serta merta secara sukarela aktif membantu ataupun membangun keadaan masyarakat tersebut. Suatu saat nantinya orang tersebut juga akan membutuhkan masyarakat itu juga. Mahasiswa yang dipandang sebagai kaum terpelajar setidaknya tidak menjadikan atribut tersebut sebagai ruang pembatas untuk membantu dan menyatu dengan masyarakat. Khotimatun Na&#8217;imah Mahasiswi Psikologi semester delapan ketika ditemui Pabelan Pos bersedia membagikan pengalamannya ketika aktif disebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Keaktifannya di LSM Seroja Surakarta yang bergerak dalam bidang pemberdayaan perempuan dan anak jalanan didasari atas niat sederhana untuk membantu masyarakat. Bahwa antara elemen masyarakat dan diri seseorang (mahasiswa, red), keduanya tidaklah dapat terlepas dan pastinya saling membutuhkan. ”Kita ikut hidup di dalamnya dan akan selalu butuh dengan masyarakat juga. Menurutku yang terpenting yakni diri kita bisa bernilai buat orang lain (bisa membantu),” ungkap mahasiswa yang juga dikenal sebagai Administrasi dalam Alumni Career and Employement Center (ACEC) UMS.<br />
Menurutnya, Seroja adalah wadah yang sangat bermanfaat bagi dirinya ataupun orang (masyarakat, red) yang dibantu baik secara materiil maupun imateriil. Misalnya,  welas asih yang ditunjukkan Seroja adalah dengan memberikan bantuan materi kepada keluarga yang membutuhkan. Akan tetapi, itu bukanlah tujuan utamanya. Santunannya lebih didedikasikan untuk mendidik masyarakat dengan memberikan pengetahuan tentang pendidikan seksual, pengajian TPA, pelatihan musik Islami (nasyid), perpustakaan gratis, dan sebagainya. “Masyarakat merasa senang, tenggapannya pun bagus. Kebanyakan dari mereka yang dibantu sangat mendukung program-program tersebut,” jelas Khotim sambil mengenang keaktifannya dulu di Seroja.<br />
Namun di balik itu semua, juga tidak luput dari masalah pun kendala yang kadang menyertai usaha tersebut. Akan tetapi, hal itu tidak menjadikan orang-orang yang ada di Seroja putus asa. ”Masalah atau kendala yang ada tidak menjadikan halangan bagi kita. Pernah kita menemui masalah, misalnya salah satu anggota diancam preman setempat ketika menyuluhkan program di jalan-jalan raya. Namun untungnya tidak terjadi apa-apa, yang penting adalah tahu keadaannya saja,” tutur mahasiswi yang mengambil twining program dengan Jurusan Tarbiyah di UMS ini bijak.<br />
Masih menurutnya, peran mahasiswa dalam masyarakat sangatlah penting dalam hal membantu ataupun menyumbangkan daya pikirannya. Sayangnya, mahasiswa di lapangan yang terjun langsung tidaklah banyak sehingga dirinya mengharapkan agar mahasiswa sadar dalam hal itu. ”Saya menyarankan untuk yang masih enggan membantu masyarakat, agar berusaha peka dan paham lingkup sekitar dahulu. Mungkin dari itu mahasiswa tersebut mampu merasakan kehidupan sekitar. Yang utama, tulus dan berani,” pesannya mantap.<br />
Adapun, Bondan Kusuma, mahasiswa Fakultas Ekonomi UMS memilih cara berbeda menjadi mahasiswa. Menjadi agen perubahaan ditunjukannya dengan terjun langsung ke masyarakat, bersama rekan-rekan mahasiswa dari beberapa universitas, merintis serta menjadi relawan Aid for Children Education (ACTION).<br />
Lembaga yang bergerak di bidang pendidikan ini didirikan pada 21 Desember 2007 di Solo oleh mahasiswa dari universitas berbeda diantaranya UMS, UNS, UMY, dan UNPAD. Bermula dari kesadaran dan kepedulian mulia terhadap kondisi pendidikan anak bangsa, Bondan cs ingin membangun pendidikan sebagai fondasi kuat untuk mengentaskan kemiskinan di negara berkembang seperti Indonesia ini.<br />
Walau baru beranggotakan delapan orang dalam perintisannya, ACTION yang digawangi Bondan ini telah menunjukkan aksinya dalam membantu inventarisasi perpustakaan Sekolah Dasar Wonosari 1 Sumber, Surakarta. Di dalam aksinya, ACTION sebagai lembaga independen ini juga menggaet UNICEF dan UNESCO dalam pengadaan buku termasuk juga buku cerita anak.<br />
“Adanya ACTION ini untuk membantu anak-anak dalam rangka menumbuhkan kembali minat baca anak terhadap buku sebagai antisipasi terhadap permainan modern yang dapat membuat anak lupa waktu, seperti game online ataupun internet,” ungkap Bondan kepada Pabelan Pos.<br />
Tanggapan masyarakat pun lumayan bagus dengan adanya kemauan guru dalam memantau program pasca inventarisasi perpustakaan. “Pertama kali turun ke lapangan, kami kecewa melihat gan tenaga seadanya, hasilnya juga cukup memuaskan melihat antusiasme anak mendatangi perpustakaan untuk menimba ilmu dan membaca di perpustakaan,” tambah Bondan.banyaknya fasilitas di perpustakaan yang tidak terawat dengan baik sampai seperti gudang. Namun, setelah kami tata dengan tenaga seadanya, hasilnya juga cukup memuaskan melihat antusiasme anak mendatangi perpustakaan untuk menimba ilmu dan membaca di perpustakaan,” tambah Bondan.<br />
Selain SDN 1 Wonosari, Bondan cs juga telah melakukan survei ke beberapa Sekolah Dasar yang dijadikan sasaran program berikutnya seperti SDN 2 Gonilan, Kartasura. Rencananya, program ACTION nantinya akan dikembangkan dengan adanya program kesenian untuk anak seperti seni musik dan tari. “Sayangnya, lokasi kampus yang saling berjauhan antar anggota membuat koordinasi belum maksimal sehingga belum banyak program yang terlaksana,” keluh Athur, anggota ACTION dari UNPAD.<br />
Namun demikian, aksi mahasiswa mewujudkan cita-cita mulia dalam rangka mewujudkan Indonesia lebih baik setidaknya telah dirasakan langsung dalam masyarakat. Begitu juga semangat mahasiswa yang mau dengan tulus membantu masyarakat secara langsung ini sekiranya dapat mengikis anggapan publik yang mencitrakan mahasiswa sebagai pembuat keributan.<br />
“Mahasiswa sebagai penerus bangsa tidaklah layak bila melakukan demo sampai merusak fasilitas, itu sama saja merusak bangsa dong. Kalau seperti itu, dimana budaya timur yang halus itu?” tutur Bondan yang saat ini masih konsen di Jurusan Manajemen semester akhir.<br />
“Ya, semua itu kembali lagi ke orangnya. Mereka sudah bukan anak kecil lagi, mereka anarkis itu atas keinginan sendiri atau ada provokasi? Lebih baik lakuin aja, jangan hanya NATO alias Not Action Talk Only,” saran Athur kepada mahasiswa yang masih bingung untuk terjun langsung ke masyarakat untuk membangun Indonesia.]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pabelanpos.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pabelanpos.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pabelanpos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pabelanpos.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pabelanpos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pabelanpos.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pabelanpos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pabelanpos.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pabelanpos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pabelanpos.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pabelanpos.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pabelanpos.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=83&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/abdi-intelektual-merakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16921a19361490afc8e11752de6d2788?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pabelanpos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Waspada !!! NII Gentayangi UMS</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/waspada-nii-gentayangi-ums/</link>
		<comments>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/waspada-nii-gentayangi-ums/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 11:26:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pabelanpos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Realita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pabelanpos.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[NII (Negara Islam Indonesia) merupakan gerakan Islam yang bertujuan untuk  mendirikan Negara Islam. Gerakan ini sebenarnya sudah muncul sejak lama dan baru-baru ini gerakan tersebut  mulai mencuat kembali di masyarakat terutama di lingkungan UMS sendiri.
Oleh  anu Utomo dan Agam Cendekia
Sejarah berdirinya NII pertama kali diproklamirkan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo pada 7 Agustus 1949. Daerah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=82&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>NII (Negara Islam Indonesia) merupakan gerakan Islam yang bertujuan untuk  mendirikan Negara Islam. Gerakan ini sebenarnya sudah muncul sejak lama dan baru-baru ini gerakan tersebut  mulai mencuat kembali di masyarakat terutama di lingkungan UMS sendiri.</strong><span id="more-82"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">Oleh <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> anu Utomo dan Agam Cendekia</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sejarah berdirinya NII pertama kali diproklamirkan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo pada 7 Agustus 1949. Daerah Tasikmalaya Jawa Barat menjadi basis pertama NII. Gerakan serupa kemudian meluas di Sulawesi Selatan dengan dipimpin Kahar Muzakar pada 20 Januari 1952. Kemudian disusul pembentukan NII di Aceh oleh Abu Daud Beureuh pada 21 September 1953. Namun, gerakan yang bertujuan untuk membentuk negara dalam negara ini semuanya berhasil dipatahkan. Meskipun demikian, upaya mendirikan Negara Islam Indonesia masih terus dilakukan sampai saat ini dan pengikutnya pun sudah berkembang menjadi lebih banyak.<br />
Menurut Drs. M. Najmuddin Zuhdi, MA. selaku ketua LPID (Lembaga Pengembangan Ilmu-Ilmu Dasar) UMS mengungkapkan bahwa pada dasarnya NII adalah ajaran yang berdasarkan pada Bumi, Al-Qur&#8217;an, dan Manusia. Bumi merupakan sumber malapetaka terciptanya banjir, gempa bumi dan bencana alam lainnya sedangkan Al-Qur&#8217;an merupakan landasan yang mengatur tentang gejala di muka bumi ini kemudian kalau  manusia ingin bersih harus melakukan perbuatan yang sifatnya mensucikan yaitu dengan shodaqoh.</p>
<p><strong>Sepak Terjang NII</strong><br />
Memang tak banyak yang mengetahui keberadaan kelompok-kelompok NII saat ini. Pasalnya, keberadaan kelompok tersebut sukar dideteksi. Tempat berkumpul kelompok ini selalu berpindah-pindah dan gerak-geriknya pun cukup eksklusif. Tidak sembarang orang bisa masuk, bahkan seseorang harus dibaiat terlebih dahulu sebelum menjadi anggota. Ia juga dilarang bercerita kepada siapa pun, kecuali sesama anggota kelompoknya. Begitu pula kasus yang terjadi di UMS yang menimpa beberapa mahasiswanya. Keberadaan jaringan NII di UMS sebenarnya sudah terlihat gerak-geriknya selama dua tahun terakhir dan gerakan ini sulit untuk terdeteksi karena gerakan mereka sangat terorganisir. Najmuddin mengungkapkan, “Sistem penyebaran ajaran NII dilakukan person ke person dalam artian pihak yang satu mengajak seseorang yang lain dan mengajaknya menuju sebuah tempat tertentu dan di tempat itu sudah ada pihak lain (temannya) yang menunggu.” Dengan sistem penyebaran seperti itu maka tidaklah mustahil jika pada tahun terakhir mahasiswa yang menjadi korban semakin bertambah. LPID mencatat bahwa terdapat 9 mahasiwa yang sudah menjadi korban. Lain halnya yang diungkapkan oleh Dr. H. Absori, SH., M. Hum Selaku WR III yang mengatakan, “Keberadaan NII di UMS sebenarnya belum sebanyak seperti yang sudah ada di UGM atau UNS sementara di UMS sendiri bisa dibilang masih pemula dan data jumlah korban yang baru saya ketahui hanya berkisar antara 6 sampai 8 mahasiswa”.<br />
Berikut ini penuturan dari beberapa mahasiswa UMS yang pernah menjadi korban gerakan NII yang menga-takannya pada saat mengadukan permasalahannya kepada LPID pada hari Jumat (3/4) lalu. Secara garis besar korban yang berinisial X mengatakan, “Pada awalnya saya diajak oleh teman saya kesalah satu tempat seperti mall atau rumah makan. Di tempat itu sudah ada orang yang menunggu dan merupakan teman dari anak yang mengajak saya. Setelah kami saling kenal dan akrab, orang yang sudah menunggu di tempat tersebut menyuruh saya untuk membaca Al-Qur&#8217;an dan selanjutnya memberikan ceramah mengenai Agama Islam dan Negara Islam. Saat itu saya sudah merasa curiga karena disuruh untuk menyerahkan shodaqoh dari harta yang saya punya seperti Handphone atau sejumlah uang yang sudah ditentukan nominalnya. Setelah itu saya tambah curiga karena saya disuruh untuk ke Jakarta dan nanti kalau sudah tiba di salah satu tempat yang sudah ditentukan akan dijemput oleh seseorang yang sudah diutusnya.” Disamping itu, ada mahasiswi sebut saja “melati” yang mengatakan bahwa dirinya pernah dibawa sampai ke Jakarta. “Pada hari Jumat (28/4) saya berangkat ke Jakarta ditemani oleh orang yang mengajak saya (salah satu anggota NII-red) dan dalam pemberangkatan ini dibagi menjadi 2 kelompok. Kami berangkat menggunakan kereta api dari stasiun Jebres Solo ke stasiun Pasar Senen Jakarta  Setelah sampai stasiun Pasar Senen kami menuju ke Lebak Bulus dan kami berhenti di Carefour. Setelah sampai di situ kami dijemput oleh mobil dan dalam perjalanan mata saya ditutup sampai tujuan. Pada hari Sabtu pukul 12.00 WIB saya disumpah dan isi sumpah itu intinya ialah untuk berjanji dan setia kepada Negara Islam dan tidak boleh mengkhianati. Pada sabtu malamnya saya dipulangkan ke Solo, setelah sampai Solo saya tidak langsung dipulangkan ke kos melainkan saya disekap di sebuah kontrakan yang berada di sekitar Perumahan Fajar Indah dan di tempat tersebut terdapat kurang lebih 10 orang. Di kontrakan tersebut saya kembali disuruh untuk mengeluarkan sedekah sebesar Rp 10 juta dan saya menjawab tidak punya uang sebesar itu. Setelah itu saya baru dipulangkan ke kos dan saya sadar ada keganjalan di sini dan saya menginginkan untuk mundur. Saat saya mengatakan mau mundur jawabannya kalau mau mundur atau keluar harus ada prosedurnya.” Kebanyakan mahasiswa yang menjadi korban ialah anak kos yang berasal dari luar Jawa dan jauh dari pengawasan orang tuanya.</p>
<p><strong>Sikap UMS dan Upaya Penangulangannya</strong><br />
Universitas Muhammadiyah Surakarta yang merupakan perguruan tinggi berbasiskan Islam dan memiliki dasar nilai Kemuhammadiyahan sangat melarang adanya ajaran ini. Seperti yang diungkapkan oleh Najmuddin,  “UMS sangat melarang ajaran ini karena sudah tidak sesuai dengan nilai Kemuhammadiyahan itu sendiri. Dan ketidaksesuaian dari ajaran ini adalah dalam hal Islam yang tidak pokok sehingga ajaran ini mewajibkan untuk memberikan sedekah yang telah ditentukan, sedangkan dalam Islam sendiri memberi zakat atau sedekah dilakukan jika mampu. Dengan demikian sedekah bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar mampu yang pada akhirnya tidak memberatkan seseorang.”<br />
Bagaimana upaya dari pihak UMS dalam menangani permasalahan ini, dari beberapa agenda yang dilakukan oleh pihak LPID seperti mondok, mentoring, mata kuliah Keislaman dan Kemuhammadiyahan apakah sudah berhasil dalam menerapkan ajaran Islam yang sebenarnya kepada anak didiknya. Sehingga bisa diukur jika pendidikan itu berhasil maka tidak akan ada mahasiswa yang terjerumus ke dalam hal-hal yang tidak diinginkan. “Selama ini tindakan yang dilakukan adalah dengan cara penyuluhan, setelah penyuluhan dilakukan kemudian diadakan daftar ulang mentor.  Dalam daftar ulang inilah bisa diketahui siapa yang mengikuti ajaran ini, setelah diketahui akan diadakan pembinaan oleh kakak mentor. Pembimbing mentor fakultas mendaftar siapa saja yang ikut ajaran tersebut kemudian diberi pembimbingan. Hal tersebut sudah dilakukan tapi dalam pelaksanaanya belum maksimal,” ungkap Najmuddin kepada Pabelan Pos. Sementara itu dilain tempat Absori mengatakan “Untuk penanggulangan permasalahan ini harus dilakukan dengan pembinaan dan pemahaman akan ajaran Islam yang benar dan standart yaitu yang sesuai dengan Al-Qur&#8217;an dan hadist  dan tidak ditambah-tambah.” Seandainya saja dengan cara pembinaan dan pemahaman ajaran islam yang sebenarnya tidak dapat berhasil apakah ada cara lain yang akan dilakukan seperti halnya men-DO (Droup Out) para anggota NII itu. “ untuk penangulangan yang lain kami tidak akan sampai men-DO para anggota itu, ya namanya orang khilaf ya harus diluruskan”. Tutup Absori ketika ditemui Pabelan Pos.]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pabelanpos.wordpress.com/82/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pabelanpos.wordpress.com/82/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pabelanpos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pabelanpos.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pabelanpos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pabelanpos.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pabelanpos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pabelanpos.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pabelanpos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pabelanpos.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pabelanpos.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pabelanpos.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=82&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/waspada-nii-gentayangi-ums/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16921a19361490afc8e11752de6d2788?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pabelanpos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sistem TOT Ideal, Mungkinkah ?</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/sistem-tot-ideal-mungkinkah/</link>
		<comments>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/sistem-tot-ideal-mungkinkah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 11:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pabelanpos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teropong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pabelanpos.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tahun di awal kepengurusan organisasi mahasiswa (ormawa), bidang kemahasiswaan UMS selalu mengadakan pembekalan kepada pengurus ormawa yang dikemas dalam format Training of Trainer (TOT). Namun dalam ranah praksis ternyata TOT dinilai belum bisa menjawab permasalahan yang ada pada mahasiswa dan masih menyisakan banyak persoalan.
Oleh: Dyah A. H. dan A. Mustopa Kamal
Ormawa sebagai wadah pengembangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=80&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Setiap tahun di awal kepengurusan organisasi mahasiswa (ormawa), bidang kemahasiswaan UMS selalu mengadakan pembekalan kepada pengurus ormawa yang dikemas dalam format Training of Trainer (TOT). Namun dalam ranah praksis ternyata TOT dinilai belum bisa menjawab permasalahan yang ada pada mahasiswa dan masih menyisakan banyak persoalan.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">Oleh: Dyah A. H. dan A. Mustopa Kamal</span></p>
<p style="text-align:justify;">Ormawa sebagai wadah pengembangan bakat, minat dan kreativitas mahasiswa selayaknya mendapatkan perhatian serius dari pihak universitas maupun fakultas yang menaunginya. Fungsi ekstern ormawa bagi universitas memang sebagai salah satu syarat akreditasi sebuah universitas, namun bagi mahasiswa sendiri ormawa terlebih sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa sebelum terjun ke dunia yang sesungguhnya selepas kuliah nanti. Ibaratnya universitas sebagai “orang tua” sudah seharusnya memberikan bimbingan dan pengarahan kepada “anak”nya yakni ormawa dalam menjalankan aktivitasnya. Pengurus ormawa yang selalu berganti setiap tahun membuat pihak universitas harus selalu memberikan pemahaman ulang lagi setiap tahunnya mengenai pola pengembangan kemahasiswaan, bagaimana prosedur dan sistemnya yang wajib diketahui oleh semua pengurus ormawa. Tanpa adanya pemahaman dari universitas, pengurus ormawa bisa salah menafsirkan Surat Keputusan (SK) Rektor. Maka TOT merupakan wadah untuk mengetahui apa latar belakang timbulnya suatu kebijakan yang diberlakukan oleh universitas terhadap mahasiswa.</p>
<p style="text-align:justify;">
Sudharto selaku Kepala Urusan Organisasi, Minat dan Kesejahteraan Mahasiswa (Kaur Orminkes) mengungkapkan hal yang paling penting dalam TOT adalah penyatuan persepsi dalam menyikapi kebijakan-kebijakan rektor dan komitmen universitas dalam hal pembinaan kemahasiswaan. Komitmen disini artinya universitas memberikan sarana dan prasarana serta pendanaan bagi ormawa meskipun tidak secara optimal, karena kedua hal tersebut hanya bersifat sebagai subsidi saja, sehingga diharapkan mahasiswa bisa kreatif mencari donatur atau sponshorship dari luar universitas. Selain itu dalam TOT juga diberikan pengarahan bagaimana kerja intern organisasi dan interaksi keluar antar organisasi satu dengan yang lain.</p>
<p><strong>TOT Belum Ideal</strong><br />
Pelaksanaan TOT selama ini dinilai belum cukup ideal. Dilihat dari pelaksaannya yang hanya berlangsung satu hingga dua hari, dirasakan masih sangat kurang oleh pengurus ormawa. Apalagi dalam format pelaksanaannya, para peserta TOT (pengurus ormawa-red) hanya diberikan teori saja tanpa ada pelatihan secara langsung sehingga mereka masih harus “meraba-raba” terhadap materi yang diperoleh. Aplikasi hanya dilakukan saat mahasiswa turun langsung ke “lapangan” dan itupun dengan trial and error tanpa ada penilaian dari universitas sebelumnya. Seperti yang diungkapkan oleh Slamet Riyanto, pengurus MUEC 2007/2008, ia merasa materi TOT masih kurang mengena karena waktu pelaksanaan yang singkat dan tidak ada aplikasinya secara langsung dalam acara tersebut. “Apalagi pelaksanaan materi TOT kemarin banyak yang melenceng dari time schedule awal, sehingga pelaksaannya kurang optimal,” ujarnya. Adiyadh Riyadh M. L selaku presiden BEM UMS 2008, juga mengatakan bahwa meskipun sudah digelar TOT, kenyataannya saat ini masih banyak kegamangan dan kurangnya pemahaman mahasiswa akan berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kemahasiswaan. kemahasiswaan.<br />
Sudharto juga mengamini hal ini. Menurutnya dari sisi materi TOT sudah mencukupi akan tetapi dari sisi waktu masih kurang. “Saya rasa TOT belum ideal,” ungkap Sudharto ketika ditemui Pabelan Pos di ruang kerjanya. “Kalau melihat materinya sudah mencukupi untuk pembinaan kemahasiswaan, tapi untuk waktunya saya merasa masih sangat kurang,” jelasnya. Lebih lanjut Sudharto menjelaskan bahwa materi-materi dalam TOT belum semuanya disampaikan secara optimal. Di antaranya adalah sosialisasi tentang tata tertib mahasiswa dan aplikasi materi yang disampaikan dalam TOT. Sebagai contoh materi pembuatan proposal sponshorship yang sebenarnya harus disampaikan secara aplikatif ternyata hanya disampaikan secara teoritis saja.<br />
Substansi dari TOT sendiri juga dirasakan kurang membawa perubahan pada mahasiswa. Seperti yang diungkapkan oleh KAMA Fakultas Teknik dalam press release-nya kepada Koran Pabelan beberapa pekan lalu menjelang pelaksanaan TOT 2008 yang menyatakan penolakan terhadap pelaksanaan TOT. Seluruh Keluarga Mahasiswa (KAMA) Fakultas Teknik yang terdiri dari sembilan organisasi tak hadir dalam pelaksanaan TOT Jumat-Sabtu (28-29/3) karena mereka menilai TOT tak membawa perubahan (Koran Pabelan edisi 29/II/Kamis, 3 April 2008). tak membawa perubahan (Koran Pabelan edisi 29/II/Kamis, 3 April 2008).<br />
Menanggapi hal tersebut, Sudharto mengatakan bahwa jika mahasiswa menganggap TOT tidak penting adalah salah, karena dalam TOT ada kebijakan-kebijakan yang belum dipahami mahasiswa secara maksimal. “Anggapan &#8216;TOT paling seperti itu&#8217; adalah anggapan yang salah, karena dalam TOT ada kebijakan-kebijakan yang belum dipahami secara maksimal oleh mahasiswa. Sehingga dalam pelaksanaannya akan terjadi benturan-benturan,” kata Sudharto.<br />
Dia menambahkan meskipun materi TOT sama dari tahun ke tahun, pengurus baru tetap harus tahu tentang pola-pola pengembangan mahasiswa. “Seharusnya tanpa dimintapun mahasiswa tetap datang TOT, karena itu menjadi semacam kebutuhan bagi mahasiswa,” ujarnya lagi.</p>
<p><strong>TOT Masih Jauh dari Konsep Training Sesungguhnya</strong><br />
“Training merupakan self impowerment atau upaya pemberdayaan diri yang sifatnya progresif yakni maju ke depan dengan perubahan yang positif,” jelas Soleh Amini Yahman, dosen Psikologi UMS. Sedangkan tujuan dari training adalah untuk meningkatkan kualitas konsep training yang sesungguhnya. Hal itu dapat dilihat pertama dari metode yang digunakan hanya ceramah saja, sehingga tujuan yang diharapkan tidak mengena. “Yang dilakukan bidang kemahasiswaan selama ini (TOT-red) bukan training, tetapi baru tahap orientasi pada penyamaan persepsi tentang kemahasiswaan,” ujarnya. Ke-dua, jumlah peserta TOT yang mencapai ratusan, padahal training paling efektif apabila jumlah pesertanya 20 hingga 30 orang. individu dengan cara mengaktualkan potensi-potensi yang sebelumnya sudah ada. Soleh Amini juga menjelaskan bahwa training berbeda dengan pendidikan. “Pendidikan merupakan proses pembelajaran, berangkat dari nol atau tidak tahu, sedangkan training merupakan follow up dari proses pembelajaran tersebut,” kata Soleh Amini. Melihat pelaksanaan TOT ormawa yang dilakukan bidang kemahasiswaan selama ini, pakar training ini mengungkapkan bahwa TOT ormawa masih jauh dari konsep training yang sesungguhnya. Hal itu dapat dilihat pertama dari metode yang digunakan hanya ceramah saja, sehingga tujuan yang diharapkan tidak mengena. “Yang dilakukan bidang kemahasiswaan selama ini (TOT-red) bukan training, tetapi baru tahap orientasi pada penyamaan persepsi tentang kemahasiswaan,” ujarnya. Ke-dua, jumlah peserta TOT yang mencapai ratusan, padahal training paling efektif apabila jumlah pesertanya 20 hingga 30 orang.<br />
Melihat ketidaksesuaian yang telah disebutkan di atas, Soleh Amini mengatakan bahwa TOT ormawa perlu dirombak sistemnya. Mengenai pelaksanaannya ia mengatakan TOT harus dilakukan dalam dua session. Pertama adalah session umum atau tahap orientasi yakni dengan mengumpulkan semua ormawa untuk penyamaan persepsi tentang kemahasiswaan. Selanjutnya dilakukan klasifikasi ormawa menurut bidangnya, setelah itu baru diberikan training. “Setiap UKM mempunyai motivasi yang berbeda sehingga semua UKM tidak bisa digeneralisir,” jelasnya. Lebih lanjut Soleh Amini mengungkapkan tentang pengadaan training idealnya adalah dua kali dalam satu tahun kepengurusan tetapi dengan tingkatan yang berbeda, training pertama tingkat dasar dan training ke-dua tingkat madya.</p>
<p><strong>Dana Kemahasiswaan Kurang Transparan</strong><br />
Di antara sekian permasalahan dalam TOT adalah tentang anggaran dana kemahasiswaan untuk masing-masing ormawa baik di tingkatan fakultas maupun universitas. Banyak yang menilai bahwa pihak universitas kurang transparan dalam menyampaikan anggaran dana kemahasiswaan, sehingga ormawa hanya “terima jadi”nya saja. Universitas tidak memberikan penjelasan mengenai dasar atau pedoman anggaran dana untuk masing-masing UKM. Sehingga yang terjadi adalah ketidakpuasan pada mahasiswa karena ada beberapa ormawa yang merasa anggaran dananya masih belum bisa memenuhi kebutuhannya.<br />
Riyadh mengatakan bahwa pada dasarnya materi TOT sudah bagus asalkan materi satu dengan yang lain disampaikan secara proporsional. Namun dia menyayangkan masalah pendanaan yang tidak dimasukkan ke dalam materi sehingga universitas terkesan tidak transparan dalam hal pendanaan. “Pada dasarnya materinya bagus, ketika masalah pendanaan dimasukan kedalam materi sebenarnya tidak masalah, asalkan porsi materi yang diberikan harus sesuai dengan porsi materi yang lainnya,” ujar Riyadh.<br />
Disinggung masalah pendanaan, Sudharto mengatakan bahwa sebenarnya hal itu ada rumusannya akan tetapi memang tidak disampaikan kepada mahasiswa. Ia menganalogikan dengan sebuah sekolah yang menetapkan sebuah kebijakan, tidak mungkin melibatkan para siswa di sekolah tersebut karena mereka hanya sebagai pengguna jasa pendidikan saja. begitu juga halnya dengan rancangan anggaran dana kemahasiswaan. Selanjutnya ia menjelaskan, sebelum TOT dilaksanakan ada rapat antara bidang kemahasiswaan dengan Wakil Dekan III (WD III) untuk membahas konsep penentuan dana per fakultas yang kemudian menghasilkan rumusan-rumusan. Pertimbangan-pertimbangnanya diperoleh dari perbandingan jumlah mahasiswa, jumlah lembaga, jumlah mahasiswa baru serta pengembangan masing-masing fakultas. Begitu juga dengan anggaran dana untuk ormawa di tingkat universitas juga sudah dirumuskan. kemudian menghasilkan rumusan-rumusan. Pertimbangan-pertimbangnanya diperoleh dari perbandingan jumlah mahasiswa, jumlah lembaga, jumlah mahasiswa baru serta pengembangan masing-masing fakultas. Begitu juga dengan anggaran dana untuk ormawa di tingkat universitas juga sudah dirumuskan.<br />
<strong><br />
Workshop, Alternatif Pengganti TOT</strong><br />
Mengingat bahwa TOT yang dilaksanakan selama ini belum ideal dan masih menyisakan banyak persoalan di tataran praksis, muncul wacana baru diadakannya workshop sebagai alternatif pengganti TOT. Contain workshop yang disertai aplikasi, bukan hanya materi, dirasakan lebih tepat dibandingkan TOT. Sehingga dengan diadakan workshop, diharapkan permasalahan-permasalahan yang masih mengambang dalam TOT bisa terjawab. Seperti halnya untuk materi sponsorship yang membutuhkan praktek langsung tidak mungkin dilakukan dalam TOT, tetapi hal itu bisa diadakan dalam format workshop. Selain itu untuk pembahasan masalah anggaran memang workshop-lah yang paling tepat, bukan TOT. Seperti yang dikemukakan oleh Riyadh bahwa anggaran dana yang disampaikan dalam TOT tidak substansial, karena ormawa tidak mengerti tentang rumusan anggaran yang dikeluarkan oleh pihak universitas dan pedoman apa yang mereka gunakan dalam perumusan anggaran tersebut. “Kita (ormawa-red) tidak tahu pedoman yang dijadikan untuk plotingan anggaran itu berasal darimana, statuta UMS atau pedoman lainnya. Kalau ormawa bisa mengerti dan paham akan pedoman yang disampaikan dalam anggaran dana kemahasiswaan ini bagus untuk ke depannya. Dan saya berharap workshop bisa menjawab akan hal ini, “ imbuh Riyadh.<br />
Mengenai format ideal workshop, menurut Riyadh pelaksanaannya harus dilakukan secara berjenjang dan tidak parsial agar transformasi pemahaman dari universitas kepada mahasiswa bisa terserap seluruhnya.. Selain itu bukan hanya WR II saja yang terlibat, tetapi juga WR I dan WR II karena ketiga bidang tersebut saling terkait satu sama lain. Dan untuk mendukung suksesi acara ini, Riyadh menambahkan harus ada konsolidasi dan koordinasi pra workshop di tataran ormawa, hal ini dimaksudkan agar ada kesepahaman di antara pihak universitas dan mahasiswa akan acara itu sendiri.<br />
Menanggapi hal ini, Sudharto tidak mempermasalahkan mengenai format apapun yang digunakan asalkan tujuan dari agenda tersebut tercapai dan bisa membawa perubahan yang lebih baik ke depan, dan yang terpenting adalah mahasiswa paham akan substansi acara itu sendiri. “Format apapun sepanjang itu menuju ke arah ke depan yang lebih baik, why not?” ujar Sudharto santai.<br />
Meskipun demikian, kata Sudaharto, workshop tidak bisa sepenuhnya dilakukan karena tetap ada kekurangan pada format workshop tersebut. Di satu sisi workshop memang tepat untuk penjelasan dan pemahaman kebijakan, akan tetapi tidak bisa dijadikan tempat untuk pembahasan kebijakan.<br />
Mengenai rencana TOT selanjutnya yang akan diadakan sekitar bulan Februari atau Maret 2009, Sudharto mengatakan bahwa TOT kemungkinan akan tetap dilaksanakan seperti sebelumnya, hanya saja settingan format dan materinya lebih disempurnakan. Sebelum pelaksanaan TOT, pihaknya (universitas-red) akan mengadakan audiensi dulu dengan mahasiswa untuk menampung aspirasi dari mahasiswa mengenai pelaksanaan TOT. Sudharto juga akan mempertimbangkan masukan yang ada mengenai konsep dan sistem pelaksanaan agenda tersebut.<br />
Apapun format yang akan digelar untuk TOT ke depan, apakah tetap menggunakan sistem TOT atau workshop, atau dilakukan perombakan sistemnya dengan dua session pelaksanaan, diharapkan bisa menjawab permasalahan ormawa di tataran praksis dan bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa. Dan diharapkan universitas bisa lebih transparan lagi dalam menyampaikan kebijakan-kebijakannya terhadap mahasiswa sehingga bisa meminimalisir kesalahpahaman pada mahasiswa.]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pabelanpos.wordpress.com/80/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pabelanpos.wordpress.com/80/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pabelanpos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pabelanpos.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pabelanpos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pabelanpos.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pabelanpos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pabelanpos.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pabelanpos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pabelanpos.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pabelanpos.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pabelanpos.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=80&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/sistem-tot-ideal-mungkinkah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16921a19361490afc8e11752de6d2788?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pabelanpos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara Eksklusif dengan Prof.Dr.Hj.Markhamah, M.Hum.</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/wawancara-eksklusif-dengan-profdrhjmarkhamah-mhum/</link>
		<comments>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/wawancara-eksklusif-dengan-profdrhjmarkhamah-mhum/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 11:20:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pabelanpos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liput]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pabelanpos.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) setiap tahunnya masih menyisakan banyak pesoalan. Mulai dari kasus kebocoran soal hinga kasusu kecurangan lainnya. Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa kasus-kasusu semacam itu melibatkan oknum guru. Lalu, apakah sistem ini masih bisa sipertahankan?
Oleh: Septiandi
Melihat perkembangan sistem pendidikan saat ini di Indonesia (sebagai contoh pelaksanaan UN), menurut ibu apakah sudah bisa dikatakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=79&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) setiap tahunnya masih menyisakan banyak pesoalan. Mulai dari kasus kebocoran soal hinga kasusu kecurangan lainnya. Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa kasus-kasusu semacam itu melibatkan oknum guru. Lalu, apakah sistem ini masih bisa sipertahankan?</strong></p>
<p><span style="color:#ff0000;">Oleh: Septiandi</span></p>
<p><strong>Melihat perkembangan sistem pendidikan saat ini di Indonesia (sebagai contoh pelaksanaan UN), menurut ibu apakah sudah bisa dikatakan ideal ?</strong></p>
<p>Kalau dihubungkan dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), menurut saya sistem UN (Ujian Nasional) saat ini kurang sesuai, karena soal yang diberikan bersifat nasional. Sedangkan KTSP itu lebih mengakomodir kebutuhan lokal atau potensi lokal, jadi ya kurang pas. Harus ada kisi-kisi secara umum mengenai apa yang diujikan, tetapi materinya berbeda dengan daerah. Singkatnya, mesti ada pembagian sekian persen soal yang bersifat umum, sekian persen yang lokal atau daerah. Sehingga dengan cara seperti itu potensi lokal bisa terwakili, tidak seperti yang terjadi saat ini. Cuma, implementasi seperti itu sangat sulit. Memang tiap  KTSP berbeda-beda, tetapi dari yang berbeda itu ada yang bersifat umum.</p>
<p><strong>Banyak kasus kecurangan yang terjadi selama pelaksanaan UN tahun ini mengindikasikan bahwa masih ada kelemahan dalam sistem pendidikan kita, bagaimana sebaiknya ? </strong></p>
<p>Masalah kecurangan yang terjadi selama pelaksanaan UN, saya belum berani berkomentar apakah itu benar-benar suatu bentuk kecurangan atau bukan. Karena itu belum bisa dibuktikan kebenarannya dalam artian saya tidak bisa menyatakan curang atau tidak.</p>
<p><strong>Siswa saat ini banyak yang menghalalkan segala cara demi memperoleh nilai tinggi, apakah pendidikan saat ini sudah keluar dari tujuan awal ? </strong></p>
<p>Saya rasa tidak, jadi selama ini memang yang dipakai untuk dasar kompetensi itu adalah nilai. Ketika para siswa mengejar nilai sebagai tujuan akhir secara tidak langsung mereka melewati sebuah proses. Bagi seorang siswa nilai memang menjadi nomor satu. Dan sekali lagi kompetensi itu yang diukur adalah nilai. Yang penting adalah mereka berusaha untuk memperoleh nilai tinggi.</p>
<p><strong>Bagaimana dengan seorang pendidik (guru) yang justru tidak bertindak sebagaimana mestinya seorang guru (melakukan kecurangan) ketika melihat realitas UN yang terjadi saat ini ?<br />
</strong><br />
Dalam batas-batas tertentu hal itu dibolehkan, namun dibatas-batas lain seorang guru akan berupaya bagaimana hasilnya agar baik. Kalau kita melihat lebih jauh, itu merupakan bentuk tanggung jawab seorang guru dalam mendidik siswanya sampai pada titik perjuangan akhir, apapaun akan dilakukan agar anak didiknya berhasil lulus. Namun, pada tataran ideal hal tersebut tidak boleh dilakukan. Singkatnya, apapun boleh dilakukan selama jangan sampai keluar koridor.  lulus. Namun, pada tataran ideal hal tersebut tidak boleh dilakukan. Singkatnya, apapun boleh dilakukan selama jangan sampai keluar koridor.</p>
<p><strong>Lalu, kalau dikomparasikan dengan kebutuhan pasar  atau dunia kerja,  seberapa siapkah kita ?<br />
</strong><br />
Menurut saya itu dua hal yang berbeda. Dunia kerja sebenarnya menuntut lebih pada keterampilan dan manajemen, sementara itu keterampilan dan manajemen tidak cukup dinilai dari UN. Dan ini harus ada uji keterampilan dan uji material. Kebutuhan dunia kerja tidak sekedar kompetensi akademik, tetapi kompetensi manajerial. Tidak hanya kecerdasan intelektual, namun harus diimbangi dengan kecerdasan yang lain, seperti kecerdasan emosional, spiritual, dll.</p>
<p><strong>Bagaimana harapan sistem UN Kedepannya ?<br />
</strong><br />
Walaupun masih ada kelemahan, harus ada perbaikan-perbaikan, dan disadari atau tidak perbaikan tersebut memerlukan proses yang panjang. Ini tidak hanya tugas seorang Menteri Pendidikan dan Pemerintah Pusat, tetapi tugas seluruh komponen bangsa ini untuk menciptakan sistem pendidikan yang baik.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pabelanpos.wordpress.com/79/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pabelanpos.wordpress.com/79/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pabelanpos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pabelanpos.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pabelanpos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pabelanpos.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pabelanpos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pabelanpos.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pabelanpos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pabelanpos.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pabelanpos.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pabelanpos.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=79&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/wawancara-eksklusif-dengan-profdrhjmarkhamah-mhum/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16921a19361490afc8e11752de6d2788?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pabelanpos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penambaha Standar Kelulusan, Penambahan Beban Psikis Siswa</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/penambaha-standar-kelulusan-penambahan-beban-psikis-siswa/</link>
		<comments>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/penambaha-standar-kelulusan-penambahan-beban-psikis-siswa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 11:10:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pabelanpos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liput]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pabelanpos.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[tertekan dan khawatir kerap menyelimuti Rini, salah satu peserta UN 2008. ”Kadang perasaan jenuh itu ada rasanya  pengen refreshing capek menghadapi soal,” ungkapnya. Standar Kompetensi Lulusan yang melambung tinggi juga menjadi momok tersendiri bagi siswa. ”Apalagi standar kelulusan yang begitu tinggi, kalau sedang mengerjakan membuat saya tidak tenang,” tambahnya saat ditemui Pabelan Pos, Rabu (23/4).
Di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=78&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">tertekan dan khawatir kerap menyelimuti Rini, salah satu peserta UN 2008. ”Kadang perasaan jenuh itu ada rasanya  pengen refreshing capek menghadapi soal,” ungkapnya. Standar Kompetensi Lulusan yang melambung tinggi juga menjadi momok tersendiri bagi siswa. ”Apalagi standar kelulusan yang begitu tinggi, kalau sedang mengerjakan membuat saya tidak tenang,” tambahnya saat ditemui Pabelan Pos, Rabu (23/4).<br />
Di tempat yang sama, Etik, peserta UN 2008 mengeluhkan penambahan mata pelajaran yang diujikan menjadi beban tersendiri baginya. Hal tersebut dikarenakan mata pelajaran yang diujikan dari tiga mata pelajaran menjadi enam mata pelajaran. ”Saya harus belajar ekstra bahkan saya jenuh menghadapi soal-soal, belum lagi penambahan mata pelajaran,” tandasnya.<br />
Di tempat terpisah, Yoga, yang juga peserta UN 2008 mengaku soal adanya perbedaan yang signifikan antara soal UN dan soal latihan selama ini, soal UN dirasa lebih sulit. ”Belum terbebani dengan standar 5.25, malah soal UN kebanyakan lebih sulit dari pada soal latihan membuat saya pesimis dengan jawaban saya,” keluhnya.<br />
Tekanan psikis yang dialami siswa juga menjadi perhatian khusus bagi Endang Sri K, Kepala Sekolah SMUN 7 Surakarta. Beliau mengungkapkan adanya tekanan pada siswa menjelang UN. ”Otomatis ada tekanan karena memang ujian penentuan masa depan,” tegasnya.<br />
Menanggapi hal itu, Juliani Prasetyaningrum pakar psikologi mengungkapkan, kekhawatiran ketidaklulusan dapat dijadikan sebagai motivasi belajar yang tinggi.  ”Ketakutan ketidaklulusan itu menjadi stressor yang mana jika itu bisa di manage atau ditangani bisa menjadi pemacunya (penyemangat, red),” ungkapnya. Di sisi lain, beliau juga menambahkan kekhawatiran tersebut juga dapat berakibat buruk pada saat ujian berlangsung. ”Jika stressor tidak dapat di-manage, maka ketakutan itu  menjadi momok, sesuatu yang menakutkan dan bisa mengganggu performance,” jelas Juliani disela-sela kesibukannya. Dengan kata lain, stres mempengaruhi performance. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa stres dalam taraf tertentu dapat berakibat positif. Dengan adanya stres yang proposional dapat menjadi pendorong untuk bekerja lebih keras. Sedangkan stres negatif muncul ketika subjek tidak mampu menangani atau mencari solusi dari stresnya itu berpengaruh terhadap performancenya.</p>
<p style="text-align:justify;">”Ketakutan ketidaklulusan itu menjadi stressor yang mana jika itu bisa di manage atau ditangani bisa menjadi pemacunya (penyemangat, red),” ungkapnya. Di sisi lain, beliau juga menambahkan kekhawatiran tersebut juga dapat berakibat buruk pada saat ujian berlangsung. ”Jika stressor tidak dapat di-manage, maka ketakutan itu  menjadi momok, sesuatu yang menakutkan dan bisa mengganggu performance,” jelas Juliani disela-sela kesibukannya. Dengan kata lain, stres mempengaruhi performance. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa stres dalam taraf tertentu dapat berakibat positif. Dengan adanya stres yang proposional dapat menjadi pendorong untuk bekerja lebih keras. Sedangkan stres negatif muncul ketika subjek tidak mampu menangani atau mencari solusi dari stresnya itu berpengaruh terhadap performancenya.</p>
<p><strong>Bimbel Sebagai Tempat Pelarian</strong><br />
Menjelang UN merupakan momentum yang tepat bagi bimbel untuk mengeksplorasi diri. Pasalnya, momentum itulah gencar-gencarnya bimbel melakukan promosi ke siswa. Akan tetapi dari beberapa pendapat, kurangnya pengaruh bimbel luar sekolah dirasakan oleh beberapa siswa kelas tiga SMA. ”Pengaruh bimbel kecil terhadap soal UN karena yang diajarkan di bimbel hanya hitungan saja, teorinya kurang,” kata siswi kelas tiga salah satu SMA di Surakarta, Etik, saat ditemui Pabelan Pos setelah UN berlangsung. Ketika ditanya mengenai alasan utama ikut bimbel, dia mengatakan untuk persiapan UN dan meminimalisir kekhawatiran tidak bisa mengerjakan. ”Ikut bimbel untuk persiapan UN, paling tidak kalau sudah ikut ya hati menjadi tenang,” tambahnya. sudah ikut ya hati menjadi tenang,” tambahnya.<br />
Sedangkan menurut salah satu siswa SMA Negeri di Surakarta, Yoga, mengaku materi yang diajarkan oleh bimbel ada yang berpengaruh dan tidak. ”Dari bimbel lebih banyak mengerjakan soal hitungan, sedangkan UN-nya seperti kimia kebanyakan teori,” ungkapnya selepas hari terakhir UN.<br />
Terpisah, Tri Agus Suhartono, Ketua Bimbel Primagama Cabang Manahan mengatakan bimbingan belajar pada dasarnya membantu siswa yang kesulitan belajar. ”tujuan bimbel kan membantu belajar siswa,”ungkapnya. Strategi selama ini yang yang diberikan bimbel ketika menjelang UN adalah men-drill siswa dengan soal-soal yang disesuaikan SKL.”kami (bimbel-red) tidak memberikan materi, Trik dari kami adalah men-drill siswa dengan soal-soal,”tambahnya. Soal yang diberikan dari bimbel selain disesuaikan dengan SKL juga disesuaikan dengan kurikulum.”soal sesuai SKL dan kurikulum,”tutupnya.<br />
Peran Bimbel ternyata tidak hanya sebagai tempat memperdalam edukasi saja, akan tetapi dapat juga dijadikan sebagai alternatif lain untuk meminimalisir kekhawatiran. ”Bimbel merupakan tempat pelarian dalam batas-batas dan orang-orang tertentu, tetapi itu bukan kesimpulan signifikan. Bimbel dapat menjadi alternatif untuk mengurangi stres,” ujar Juliani Prasetyaningrum, pakar psikologi yang juga sebagai dosen psikologi UMS saat ditemui Pabelan Pos Senin (28/4) di ruang kerjanya. Terlebih apabila bimbel didukung tutor yang kompeten maka fungsi edukasinya sangat optimal. ”Jika bimbel atau tutor diberikan oleh orang yang kompeten dan itu untuk membantu memahami materi lebih optimal, ” tambahnya.diberikan oleh orang yang kompeten dan itu untuk membantu memahami materi lebih optimal, ” tambahnya.<br />
Sementara itu, pakar pendidikan Harun Joko Prayitno, berpendapat bahwa tidak menutup kemungkinan peran bimbel justru akan mengebiri peran orang tua dan guru. ”Pada bimbel sebenarnya terjadi pendangkalan materi melalui metode pembelajaran, disisi lain bimbel dapat juga memotong proses belajar, memotong peran dan kewajiban orang tua, memotong peran dan kewajiban guru.” ungkapnya kepada Pabelan Pos, Senin (28/4).</p>
<p><strong>Upaya Menghindari Beban Psikis</strong><br />
Berbagai cara dilakukan baik pihak sekolah maupun siswa itu sendiri demi mengurangi beban psikis siswa yang dirasa semakin berat. Kepala Sekolah SMAN 7 Surakarta, Endang Sri K, saat ditemui Pabelan Pos di kantornya, Rabu (23/4), menyatakan pihak sekolah melakukan upaya meminimalisir beban psikologi siswa.” Usaha dari sekolah yaitu latihan ujian dan doa bersama,” ungkapnya. Ketika ditanya mengenai terapi khusus bagi siswa beliau mengatakan bahwa sejauh ini belum ada. ”Kami belum melangkah kearah itu”, tambahnya.<br />
Hal senada juga diungkap Hariyanto, guru mapel Akuntansi SMAN 4 Surakarta. Beliau mengaku pihak sekolah sejauh ini hanya memberikan refreshing dan doa bersama. ”Upaya terapi belum ada, kami memberikan refreshing semacam hari tenang dan doa bersama saya rasa sudah cukup,” ungkapanya Rabu (23/4).<br />
Di lain pihak, Yoga, siswa SMU kelas tiga mengaku jika stres melanda dirinya hanya melakukan pekerjaan yang dia senangi sebagai upaya merefreshkan pikirannya, ”biasanya saya makan dan nonton TV saat jenuh belajar,” ungkapnya.<br />
Berbeda dengan Rini, yang juga peserta UN mengaku upaya yang dilakukan adalah makan coklat, ”saya makan coklat kalau stres datang,” akunya. Menurut Juliani Prasetyaningrum, stres yang dialami siswa dapat diminimalisir oleh siswa itu sendiri. ”Stres dapat diminimalisir dengan memanage stres yang bersifat individual atau personal,” ungkapnya. Menurutnya hal tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara subjek mandalami penyebab stressor dan di deskripsikan. Kemudian subjek membayangkan hal paling buruk yang mungkin terjadi dari rasa takutnya. Lantas subjek mencari solusi dari hasil retrospeksi diatas. Dan solusinya itu dipersiapkan sebelum subjek menghadapi langsung stressornya.]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pabelanpos.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pabelanpos.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pabelanpos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pabelanpos.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pabelanpos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pabelanpos.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pabelanpos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pabelanpos.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pabelanpos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pabelanpos.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pabelanpos.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pabelanpos.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=78&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/penambaha-standar-kelulusan-penambahan-beban-psikis-siswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16921a19361490afc8e11752de6d2788?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pabelanpos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penambahan Standar Kelulusan,Penambahan Psikis Siswa</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/penambahan-standar-kelulusanpenambahan-psikis-siswa/</link>
		<comments>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/penambahan-standar-kelulusanpenambahan-psikis-siswa/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 11:06:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pabelanpos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liput]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pabelanpos.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Peningkatan standar kelulusan dan pnambahan mata pelajaran yang diujikan menjadi senjata utama pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Alhasil, beban psikis yang dialami siswa pun semakin bertambah pula.
Oleh: Novrika M.S dan Murti Sari Utami
Peran penting pemerintah dalam menentukan sistem UN sebagai formula strategi evaluasi demi meningkatkan kualitas pendidikan dirasa masih mengundang pro dan kontra. Pasalnya, UN [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=77&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Peningkatan standar kelulusan dan pnambahan mata pelajaran yang diujikan menjadi senjata utama pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Alhasil, beban psikis yang dialami siswa pun semakin bertambah pula.</strong><span id="more-77"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">Oleh: Novrika M.S dan Murti Sari Utami</span></p>
<p style="text-align:justify;">Peran penting pemerintah dalam menentukan sistem UN sebagai formula strategi evaluasi demi meningkatkan kualitas pendidikan dirasa masih mengundang pro dan kontra. Pasalnya, UN tahun pelajaran 2007/2008 ternyata makin mendulang perdebatan dan kritik dari masyarakat. Melalui Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP), Depdiknas, menambahkan beberapa mata pelajaran dasar yang diujikan dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) bagi siswa SMA dan setingkat lainnya.<br />
Langkah yang diambil pemerintah dalam UN 2008 ini otomatis menambah beban psikis siswa karena ditengah SKL yang melambung tinggi, siswa juga dijejali dengan soal-soal hasil studinya selama tiga tahun, sedangkan kelulusan siswa hanya ditentukan dalam waktu tiga hari. UN yang dilaksanakan serentak pada tanggal 22-24 April 2008 lalu sepertinya masih menyisakan beban berat siswa karena selain faktor peningkatan SKL mata pelajaran yang diujikan, bahkan kriteria kelulusan hingga berita ini diturunkan mereka masih menunggu kepastian lulus tidaknya yang akan diumumkan serentak pada tanggal 14 Juni mendatang.<br />
Jika beban siswa yang begitu berat tidak diimbangi dengan kebutuhan spiritual akan hiburan kemungkinan terburuk siswa dapat mengalami stres yang mengarah ke depresi. Hal tersebut juga diamini oleh Juliani Prasetyaningrum, pakar psikologi. Dia  berpendapat bahwa kemungkinan berat beban psikis yang dialami siswa dapat mengarah ke stres dan bahkan depresi. “Rata-rata dengan kondisi seperti itu (tekanan kelulusan, red) sangat mungkin mengalami tekanan psikologis. Bisa saja depresi jika keadaan psikologisnya tidak kuat,” jelasnya.</p>
<p><strong>Penambahan Mata Pelajaran dan SKL</strong><br />
Penambahan mata pelajaran yang diujikan dan SKL merupakan terobosan baru pemerintah guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ditemui Pabelan Pos disela-sela kesibukannya, pakar pendidikan Harun Joko Prayitno mengungkapkan model ujian tahun ini merupakan hasil evaluasi ujian kemarin. ”Model ujian baru dan berganti-ganti dikarenakan masih terdapat celah pada model-model ujian sebelumnya,” ungkapnya. terobosan baru pemerintah guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ditemui Pabelan Pos disela-sela kesibukannya, pakar pendidikan Harun Joko Prayitno mengungkapkan model ujian tahun ini merupakan hasil evaluasi ujian kemarin. ”Model ujian baru dan berganti-ganti dikarenakan masih terdapat celah pada model-model ujian sebelumnya,” ungkapnya.<br />
Dia menduga kelemahan yang terjadi karena sikap mental bangsa yang jelek sehingga menimbulkan kebocoran pada soal ujian. ”Untuk mekanisme ujian sekarang ini sudah bagus dari segi pembelajaran, bahan ajar dan sebagainya, yang belum bagus hanyalah masalah kultur (sikap mental, red) sehingga masih terjadi kebocoran soal,” imbuhnya.<br />
Sementara itu, Etik, peserta UN 2008 juga berpendapat soal yang diberikan sekolah sesuai SKL sebagai acuan soal UN dirasa kurang efektif. ”Soal yang sesuai SKL yang diberikan dari pihak sekolah berbeda jauh dengan soal UN membuat saya kaget ketika mengerjakan, mending tidak usah dikasih dari pada kita terpancang dengan itu,” keluhnya.<br />
Hal senada juga dikatakan oleh Rini yang juga peserta UN 2008. Menurut dia, untuk UN tahun depan tidak perlu diberikan soal semacam itu karena hanya mengkotak-kotakkan siswa dengan apa yang mereka pelajari.<br />
Dalam kesempatan lain, Hariyanto, guru mapel Akuntansi SMAN 4 Surakarta mengatakan soal yang diberikan pihak sekolah disesuaikan dengan SKL dan diambil dari BSNP. ”Soal setiap tahun hampir sama, kalau mereka mengeluh tentang SKL dari BSNP saya rasa kurang sosialisasi saja,” jelasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">mengeluh tentang SKL dari BSNP saya rasa kurang sosialisasi saja,” jelasnya.<br />
Di sisi lain peningkatan Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) dari 5,00 menjadi 5,25 menyisakan beban berat bagi siswa belum lagi ditambah kriteria penilaian demi menerobos dinding kelulusan dirasa sangat berat. Seperti yang diungkap Kepala Sekolah SMAN 7 Surakarta, Endang Sri K, saat ditemui Pabelan Pos di kantornya, Rabu (23/4). Dia mengatakan standar kelulusan untuk jenjang SMA harus memenuhi syarat, untuk kriteria pertama yaitu rata-rata minimal 5,25 dengan tidak ada nilai dibawah 4,25. Apabila kriteria pertama tidak tercapai, maka ada kriteria kedua yang mensyaratkan boleh terdapat nilai 4,00 hanya ada pada satu pelajaran yang di UN-kan dan lima mata pelajaran yang lainnya harus mencapai nilai sekurang-kurangnya 6,00 dan mencapai nilai rata-rata minimal 5,25.<br />
Harun Joko Prayitno juga menambahkan SKL menjadi hal yang penting guna memotivasi siswa. ”Target tetap perlu, agar menjadi motivasi untuk anak,” ungkapnya. Dia juga menambahkan setuju dengan standar yang ditetapkan, namun mutu PBM (Pemilihan Bobot Materi) juga harus ditingkatkan. ”Percuma saja jika standar nilai dinaikan tapi bobot soal diturunkan,” tutupnya.</p>
<p><strong>Peningkatan Mutu Sama Dengan Peningkatan Beban Psikis</strong><br />
Berbeda dengan tahun sebelumnya, UN 2008 ini dirasa oleh beberapa kalangan justru menambah berat beban psikis siswa. Perasaan yang begitu tinggi, kalau sedang mengerjakan membuat saya tidak tenang,” tambahnya saat ditemui Pabelan Pos, Rabu (23/4).</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pabelanpos.wordpress.com/77/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pabelanpos.wordpress.com/77/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pabelanpos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pabelanpos.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pabelanpos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pabelanpos.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pabelanpos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pabelanpos.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pabelanpos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pabelanpos.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pabelanpos.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pabelanpos.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=77&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/penambahan-standar-kelulusanpenambahan-psikis-siswa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16921a19361490afc8e11752de6d2788?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pabelanpos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Progdi Baru: Jurus Menggaet Pasar</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/progdi-baru-jurus-menggaet-pasar-2/</link>
		<comments>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/progdi-baru-jurus-menggaet-pasar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 10:56:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pabelanpos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lipsus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pabelanpos.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Inggris, Al-Islam, dan Kemu-hammadiyahan.
Sarana Lab
Perubahan kurikulum belum sejalan dengan peningkatan sarana laboratorium yang memadai. Hal ini masih terkendala diwilayah operasional atau peralatan pendukung laboratorium yang belum memadai, mengingat fungsi laboratorium sebagai ajang pengaplikasian teori-teori yang ada dalam perkuliahan membantu mahasiswa dalam penyerapan materi. ”Sebenarnya pada tahun 2002 kurikulum Geografi sudah dibentuk dengan basis laboratorium, namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=76&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Inggris, Al-Islam, dan Kemu-hammadiyahan.</p>
<p><strong>Sarana Lab</strong><br />
Perubahan kurikulum belum sejalan dengan peningkatan sarana laboratorium yang memadai. Hal ini masih terkendala diwilayah operasional atau peralatan pendukung laboratorium yang belum memadai, mengingat fungsi laboratorium sebagai ajang pengaplikasian teori-teori yang ada dalam perkuliahan membantu mahasiswa dalam penyerapan materi. ”Sebenarnya pada tahun 2002 kurikulum Geografi sudah dibentuk dengan basis laboratorium, namun terkendala di wilayah operasional dalam artian pada tataran konsep kurikulum sebenarnya sudah matang, tapi terbentur oleh sarana laboratorium yang belum mendukung,” tambahnya.<br />
Sementara itu, di tempat terpisah  Musyiam mengatakan, sistem laboratorium di UMS yang dipakai yaitu &#8216;Common Us&#8217; dengan kata lain laboratorium yang sama dipakai dari berbagai program studi, penerapan sis-tem semacam ini dalam rangka efisiensi sarana praktikum. “Itu (common us, red) lebih efisien,” tukasnya. Penerapan &#8216;Common Us&#8217; hanya pada mata kuliah tertentu yang sifatnya umum semisal Fisika. Namun tidak seluruh prodi menggunakan sarana laboratorium yang sama, ada beberapa prodi yang benar-benar memerlukan sarana laboratorium khusus seperti Geografi, Kedokteran, dan Ilmu Komunikasi.</p>
<p><strong>Pentingnya Sosialisasi</strong><br />
Ketatnya persaingan antar Perguruan Tinggi Swasta dalam menjaring siswa baru memang tidak bisa dielakkan. Berbagai program ditawarkan dengan keunggulannya masing-masing sebagai strategi menggaet calon siswa. Namun, persoalan yang ada semakin kompleks dan melebar sehingga minat siswa terhadap sebuah prodi tertentu menjadi minim. Kecenderungan yang terjadi di masyarakat saat ini sudah mulai bergeser terhadap prodi-prodi tertentu, seperti pada prodi Ekonomi Pembangunan, Ushuluddin, dan Geografi. Secara makro, fenomena ini memberikan dampak yang kurang baik terhadap beberapa Perguruan Tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan minat para siswa terhadap beberapa prodi tersebut. Sangat disayangkan fenomena seperti ini berakibat pada penutupan prodi tertentu yang dianggap kurang memenuhi kuota minimal. “Program studi Ilmu Kesehatan terpaksa kami tutup karena hanya tujuh mahasiswa yang mendaftar,” jelas Musyiam. Faktor dominan yang paling mempengaruhi menurunnya minat siswa akan prodi tertentu adalah image dan kebutuhan pasar yang masih lemah. Ini didorong dengan masih kurangnya pengetahuan masyarakat itu sendirimelebar sehingga minat siswa terhadap sebuah prodi tertentu menjadi minim. Kecenderungan yang terjadi di masyarakat saat ini sudah mulai bergeser terhadap prodi-prodi tertentu, seperti pada prodi Ekonomi Pembangunan, Ushuluddin, dan Geografi. Secara makro, fenomena ini memberikan dampak yang kurang baik terhadap beberapa Perguruan Tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan minat para siswa terhadap beberapa prodi tersebut. Sangat disayangkan fenomena seperti ini berakibat pada penutupan prodi tertentu yang dianggap kurang memenuhi kuota minimal. “Program studi Ilmu Kesehatan terpaksa kami tutup karena hanya tujuh mahasiswa yang mendaftar,” jelas Musyiam. Faktor dominan yang paling mempengaruhi menurunnya minat siswa akan prodi tertentu adalah image dan kebutuhan pasar yang masih lemah. Ini didorong dengan masih kurangnya pengetahuan masyarakat itu sendiri<br />
Sementara itu, menurut Yuli Priana selaku Dekan Fakultas Geografi mengungkapkan ada dua faktor yang mempengaruhi penurunan minat mahasiswa terhadap Fakultas Geografi,  pertama faktor ekstern yaitu PTN sekarang membuka banyak program studi sehingga calon mahasiswa lebih terserap ke- sana. Sedangkan faktor intern itu sendiri dari jumlah pendaftar yang relatif berkurang. ”Namun secara umum masih baik,” tuturnya. Selain itu masyarakat saat ini masih banyak yang ti-dak tahu akan Geografi se-hingga mempengaruhi minat calon mahasiswa itu sendiri.<br />
Perkembangan ilmu Geografi di Indonesia memang belum seperti negara-negara maju di- dunia. Pemahaman masyarakat Indonesia yang masih awam akan geografi itu sendiri agaknya menjadi kendala bagi Perguruan Tinggi Swasta khususnya UMS dalam menjaring lebih banyak siswa. Berbagai upaya dilakukan pihak Fakultas untuk lebih memberikan informasi kepada masyarakat akan ilmu Geografi yang sebenarnya. Mulai dari seminar hingga sosialisasi ke sekolah-sekolah. Amin menuturkan, kegiatan seperti itu (sosialisasi, red) sudah dilaksanakan oleh pihak Fakultas Geografi sejak tahun 1997 atau yang disebut PPAG (Pengenalan dan Penerapan Alat-Alat Geografi). Awal mulanya program tersebut berjalan sebatas sosialisasi dan tidak ada keterikatan antara kedua belah pihak yang saling bekerjasama, namun pada tahun 2002 mulai digagas semacam nota kesepahaman (MoU) sehingga terjalin simbiosis mutualisme.khususnya UMS dalam menjaring lebih banyak siswa. Berbagai upaya dilakukan pihak Fakultas untuk lebih memberikan informasi kepada masyarakat akan ilmu Geografi yang sebenarnya. Mulai dari seminar hingga sosialisasi ke sekolah-sekolah. Amin menuturkan, kegiatan seperti itu (sosialisasi, red) sudah dilaksanakan oleh pihak Fakultas Geografi sejak tahun 1997 atau yang disebut PPAG (Pengenalan dan Penerapan Alat-Alat Geografi). Awal mulanya program tersebut berjalan sebatas sosialisasi dan tidak ada keterikatan antara kedua belah pihak yang saling bekerjasama, namun pada tahun 2002 mulai digagas semacam nota kesepahaman (MoU) sehingga terjalin simbiosis mutualisme.<br />
Terkait dengan sosialisasi, beberapa waktu yang lalu diselenggarakan seminar de-ngan guru-guru SMU se-Jawa Tengah. Ketika ditanya mengenai seminar yang dilaksanakan beberapa waktu lalu dalam rangka menyusun sebuah kurikulum baru, Amin pun menampiknya. “Seminar dengan guru-guru SMU se-Jateng yang diselenggarakan beberapa waktu lalu sebenarnya tidak dalam rangka menyusun sebuah konsep kurikulum yang baru, namun dalam pertemuan tersebut lebih sebagai ajang sosialisasi kepada SMU-SMU akan ilmu geografi yang sebenarnya. Dengan sosialisasi tersebut, diharapkan bisa mengukur sejauh mana perkembangan ilmu Geografi yang diajarkan di sekolah-sekolah,” tukasnya.</p>
<p>Geografi Buka Prodi Baru ?<br />
Melihat perkembangan institusi pendidikan yang semakin melebarkan sayapnya dengan membuka prodi baru sebagai pemenuhan kebutuhan pasar tergantung dari sisi mana kita melihat, amin menegaskan, dari sisi kebutuhan manajemen institusi swasta, ya bisa dikatakan sebagai pemenuhan kebutuhan pasar.<br />
Untuk itu, perkembangan tenaga pengajar yang semakin dibutuhkan, memunculkan inisiatif dari pihak Fakultas untuk membuka prodi baru yakni Program Studi Pendi-dikan Geografi. Program yang rencananya dibuka pada tahun ajaran 2009/2010 ini memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar akan tenaga pendidik di bidang Geografi. “Insya Allah tahun ajaran depan Fakultas Geografi akan membuka prodi baru yaitu FKIP Geografi,” jelas Yuli Priana.<br />
Namun, pembukaan prodi FKIP Geografi secara adminis-tratif tetap di bawah naungan FKIP. Sebab, itu merupakan sebuah aturan yang baku, “itu sudah ada konsorsiumnya, jadi, tidak bisa kita mengubah atau melanggar konsorsium tersebut,” tegas Yuli.<br />
Didalam jurusan Pendidikan Geografi nantinya, aspek pe-dagogik memang sangat ditonjolkan. ”Hal ini penting, karena terkait dengan kemam-puan mengajar seorang pen-didik yang mesti diasah terus me-nerus,” cetus Amin Sunarhadi.<br />
Sebenarnya di Fakultas Geografi sendiri ada tiga prodi, yang pertama Geografi MIPA seperti yang ada sekarang ini, yang kedua Geografi Ling-kungan, dan yang ketiga Pendidikan Geografi. “Namun semua itu kembali ke meka-nisme pasar, artinya kita me-lihat kebutuhan pasar yang ada saat ini,” ungkapnya. Untuk Prodi Geografi Lingkungan memang belum bisa dibuka, karena minat masyarakat akan jurusan tersebut belum begitu tinggi. Tidak seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan seperti yang ada saat ini yang setiap tahunnya mengalami kenaikan jumlah mahasiswa, tutup Yuli.]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pabelanpos.wordpress.com/76/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pabelanpos.wordpress.com/76/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pabelanpos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pabelanpos.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pabelanpos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pabelanpos.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pabelanpos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pabelanpos.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pabelanpos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pabelanpos.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pabelanpos.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pabelanpos.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=76&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/progdi-baru-jurus-menggaet-pasar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16921a19361490afc8e11752de6d2788?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pabelanpos</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Progdi Baru: Jurus Menggaet Pasar</title>
		<link>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/progdi-baru-jurus-menggaet-pasar/</link>
		<comments>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/progdi-baru-jurus-menggaet-pasar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 10:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pabelanpos</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lipsus]]></category>
		<category><![CDATA[Visi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pabelanpos.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[Belum cukup dengan Prodi (Program Studi) yang ada saat ini, UMS kedepannya masih berambisi membuka beberapa prodi baru. Lalu, apakah kurikulum yang ada selama ini belum mampu menjawab kebutuhan pasar ? Bagaimana pula dengan nasib Prodi yang kekurangan peminat ? 
Oleh : Septiandi
Derasnya arus globalisasi menuntut kalangan dunia pendidikan untuk selalu siap menghadapi tantangan zaman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=75&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><strong>Belum cukup dengan Prodi (Program Studi) yang ada saat ini, UMS kedepannya masih berambisi membuka beberapa prodi baru. Lalu, apakah kurikulum yang ada selama ini belum mampu menjawab kebutuhan pasar ? Bagaimana pula dengan nasib Prodi yang kekurangan peminat ? </strong><span id="more-75"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">Oleh : Septiandi</span></p>
<p style="text-align:justify;">Derasnya arus globalisasi menuntut kalangan dunia pendidikan untuk selalu siap menghadapi tantangan zaman yang semakin maju. Seiring dengan kemajuan zaman yang semakin modern, manusia dituntut untuk selalu bisa menyesuaikan diri terhadap segala perkembangan. Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan, mulai dari konsep hingga ke tataran praktis semua membutuhkan perubahan dan perbaikan disegala lini. Eksistensi sebuah Perguruan Tinggi Swasta saat ini memang benar-benar dipertaruhkan.</p>
<p><strong>Perubahan Kurikulum</strong><br />
Dalam pelakasanaannya, suatu kurikulum harus mempunyai relevansi atau kesesuaian. Kesesuaian tersebut paling tidak mencakup dua hal pokok. Pertama relevansi antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi serta perkembangan masyarakat. Kedua relevansi antara komponen-komponen kurikulum. Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai institusi pendidikan tidak mau ketinggalan akan perkembangan yang terjadi di dunia luar. Begitu pula dengan instrumen didalamnya, mulai dari sarana dan prasrana hingga kurikulum yang disesuaikan dengan tuntutan zaman. Secara periodikal kurikulum dalam sebuah prodi akan dievaluasi setiap lima tahun sekali. sebuah prodi akan dievaluasi setiap lima tahun sekali.<br />
Kebutuhan akan tenaga kerja siap pakai saat ini merupakan sebuah realitas yang terjadi di- tengah-tengah masyarakat. Perguruan Tinggi sebagai tidak hanya menjadi pusat pengembangan keilmuan, tetapi bagaimana mencetak kualitas mahasiswanya dengan berbagai cara agar siap terjun di dunia kerja. Masalah pelik yang dihadapi oleh institusi pendidikan saat ini adalah pangsa pasar yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Sebagai contoh kasus  Fakultas Geografi sendiri pada kuri-kulum tahun 2002, dalam kurikulum tersebut mencakup Geografical Information System (GIS) yang kelulusannya diproyeksikan sebagai asisten tenaga ahli, namun pada kenyataannya hanya sebagai operator saja. ”Ini kan bisa dibilang sudah keluar jalur atau rancangan awal sebuah kurikulum,” tutur Amin Sunarhadi, selaku ketua Pokja (Kelompok Kerja) Kurikulum Geografi, Jum&#8217;at (18/4).</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk itu, tuntutan akan pembaruan kurikulum yang begitu cepat tidak bisa dielak-kan lagi. Menurut Musyiam selaku Wakil Rektor I mengatakan, kurikulum itu sendiri ditinjau secara reguler empat tahun sekali, apakah masih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, keilmuan, maupun kontennya. ”Yang palig banyak mengalami perubahan yaitu mengenai metode atau konten,” ungkapnya.<br />
Peranan Universitas terhadap keberlangsungan prodi disetiap Fakultas sangatlah penting, mengingat arah dan tujuan sebuah prodi harus satu visi dengan cita-cita besar kampus ini. Kebijakan Universitas akan pengembangan kurikulum disetiap prodi sebatas jumlah SKS, yakni untuk program sarjana sebanyak 144-146 SKS, selebihnya kewenangan berada ditiap-tiap program studi. “Ini yang dinamakan disentralisasi,” tegas Musyiam. Selain itu, kompetensi dari universitas hanya beberapa mata kuliah yang bersifat pengembangan skill seperti kemampuan Bahasa Inggris, Al-Islam, dan Kemu-hammadiyahan.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pabelanpos.wordpress.com/75/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pabelanpos.wordpress.com/75/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pabelanpos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pabelanpos.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pabelanpos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pabelanpos.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pabelanpos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pabelanpos.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pabelanpos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pabelanpos.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pabelanpos.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pabelanpos.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pabelanpos.wordpress.com&blog=2295710&post=75&subd=pabelanpos&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pabelanpos.wordpress.com/2008/06/19/progdi-baru-jurus-menggaet-pasar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/16921a19361490afc8e11752de6d2788?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pabelanpos</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>