Setiap tahun di awal kepengurusan organisasi mahasiswa (ormawa), bidang kemahasiswaan UMS selalu mengadakan pembekalan kepada pengurus ormawa yang dikemas dalam format Training of Trainer (TOT). Namun dalam ranah praksis ternyata TOT dinilai belum bisa menjawab permasalahan yang ada pada mahasiswa dan masih menyisakan banyak persoalan.
Oleh: Dyah A. H. dan A. Mustopa Kamal
Ormawa sebagai wadah pengembangan bakat, minat dan kreativitas mahasiswa selayaknya mendapatkan perhatian serius dari pihak universitas maupun fakultas yang menaunginya. Fungsi ekstern ormawa bagi universitas memang sebagai salah satu syarat akreditasi sebuah universitas, namun bagi mahasiswa sendiri ormawa terlebih sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa sebelum terjun ke dunia yang sesungguhnya selepas kuliah nanti. Ibaratnya universitas sebagai “orang tua” sudah seharusnya memberikan bimbingan dan pengarahan kepada “anak”nya yakni ormawa dalam menjalankan aktivitasnya. Pengurus ormawa yang selalu berganti setiap tahun membuat pihak universitas harus selalu memberikan pemahaman ulang lagi setiap tahunnya mengenai pola pengembangan kemahasiswaan, bagaimana prosedur dan sistemnya yang wajib diketahui oleh semua pengurus ormawa. Tanpa adanya pemahaman dari universitas, pengurus ormawa bisa salah menafsirkan Surat Keputusan (SK) Rektor. Maka TOT merupakan wadah untuk mengetahui apa latar belakang timbulnya suatu kebijakan yang diberlakukan oleh universitas terhadap mahasiswa.
Sudharto selaku Kepala Urusan Organisasi, Minat dan Kesejahteraan Mahasiswa (Kaur Orminkes) mengungkapkan hal yang paling penting dalam TOT adalah penyatuan persepsi dalam menyikapi kebijakan-kebijakan rektor dan komitmen universitas dalam hal pembinaan kemahasiswaan. Komitmen disini artinya universitas memberikan sarana dan prasarana serta pendanaan bagi ormawa meskipun tidak secara optimal, karena kedua hal tersebut hanya bersifat sebagai subsidi saja, sehingga diharapkan mahasiswa bisa kreatif mencari donatur atau sponshorship dari luar universitas. Selain itu dalam TOT juga diberikan pengarahan bagaimana kerja intern organisasi dan interaksi keluar antar organisasi satu dengan yang lain.
TOT Belum Ideal
Pelaksanaan TOT selama ini dinilai belum cukup ideal. Dilihat dari pelaksaannya yang hanya berlangsung satu hingga dua hari, dirasakan masih sangat kurang oleh pengurus ormawa. Apalagi dalam format pelaksanaannya, para peserta TOT (pengurus ormawa-red) hanya diberikan teori saja tanpa ada pelatihan secara langsung sehingga mereka masih harus “meraba-raba” terhadap materi yang diperoleh. Aplikasi hanya dilakukan saat mahasiswa turun langsung ke “lapangan” dan itupun dengan trial and error tanpa ada penilaian dari universitas sebelumnya. Seperti yang diungkapkan oleh Slamet Riyanto, pengurus MUEC 2007/2008, ia merasa materi TOT masih kurang mengena karena waktu pelaksanaan yang singkat dan tidak ada aplikasinya secara langsung dalam acara tersebut. “Apalagi pelaksanaan materi TOT kemarin banyak yang melenceng dari time schedule awal, sehingga pelaksaannya kurang optimal,” ujarnya. Adiyadh Riyadh M. L selaku presiden BEM UMS 2008, juga mengatakan bahwa meskipun sudah digelar TOT, kenyataannya saat ini masih banyak kegamangan dan kurangnya pemahaman mahasiswa akan berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kemahasiswaan. kemahasiswaan.
Sudharto juga mengamini hal ini. Menurutnya dari sisi materi TOT sudah mencukupi akan tetapi dari sisi waktu masih kurang. “Saya rasa TOT belum ideal,” ungkap Sudharto ketika ditemui Pabelan Pos di ruang kerjanya. “Kalau melihat materinya sudah mencukupi untuk pembinaan kemahasiswaan, tapi untuk waktunya saya merasa masih sangat kurang,” jelasnya. Lebih lanjut Sudharto menjelaskan bahwa materi-materi dalam TOT belum semuanya disampaikan secara optimal. Di antaranya adalah sosialisasi tentang tata tertib mahasiswa dan aplikasi materi yang disampaikan dalam TOT. Sebagai contoh materi pembuatan proposal sponshorship yang sebenarnya harus disampaikan secara aplikatif ternyata hanya disampaikan secara teoritis saja.
Substansi dari TOT sendiri juga dirasakan kurang membawa perubahan pada mahasiswa. Seperti yang diungkapkan oleh KAMA Fakultas Teknik dalam press release-nya kepada Koran Pabelan beberapa pekan lalu menjelang pelaksanaan TOT 2008 yang menyatakan penolakan terhadap pelaksanaan TOT. Seluruh Keluarga Mahasiswa (KAMA) Fakultas Teknik yang terdiri dari sembilan organisasi tak hadir dalam pelaksanaan TOT Jumat-Sabtu (28-29/3) karena mereka menilai TOT tak membawa perubahan (Koran Pabelan edisi 29/II/Kamis, 3 April 2008). tak membawa perubahan (Koran Pabelan edisi 29/II/Kamis, 3 April 2008).
Menanggapi hal tersebut, Sudharto mengatakan bahwa jika mahasiswa menganggap TOT tidak penting adalah salah, karena dalam TOT ada kebijakan-kebijakan yang belum dipahami mahasiswa secara maksimal. “Anggapan ‘TOT paling seperti itu’ adalah anggapan yang salah, karena dalam TOT ada kebijakan-kebijakan yang belum dipahami secara maksimal oleh mahasiswa. Sehingga dalam pelaksanaannya akan terjadi benturan-benturan,” kata Sudharto.
Dia menambahkan meskipun materi TOT sama dari tahun ke tahun, pengurus baru tetap harus tahu tentang pola-pola pengembangan mahasiswa. “Seharusnya tanpa dimintapun mahasiswa tetap datang TOT, karena itu menjadi semacam kebutuhan bagi mahasiswa,” ujarnya lagi.
TOT Masih Jauh dari Konsep Training Sesungguhnya
“Training merupakan self impowerment atau upaya pemberdayaan diri yang sifatnya progresif yakni maju ke depan dengan perubahan yang positif,” jelas Soleh Amini Yahman, dosen Psikologi UMS. Sedangkan tujuan dari training adalah untuk meningkatkan kualitas konsep training yang sesungguhnya. Hal itu dapat dilihat pertama dari metode yang digunakan hanya ceramah saja, sehingga tujuan yang diharapkan tidak mengena. “Yang dilakukan bidang kemahasiswaan selama ini (TOT-red) bukan training, tetapi baru tahap orientasi pada penyamaan persepsi tentang kemahasiswaan,” ujarnya. Ke-dua, jumlah peserta TOT yang mencapai ratusan, padahal training paling efektif apabila jumlah pesertanya 20 hingga 30 orang. individu dengan cara mengaktualkan potensi-potensi yang sebelumnya sudah ada. Soleh Amini juga menjelaskan bahwa training berbeda dengan pendidikan. “Pendidikan merupakan proses pembelajaran, berangkat dari nol atau tidak tahu, sedangkan training merupakan follow up dari proses pembelajaran tersebut,” kata Soleh Amini. Melihat pelaksanaan TOT ormawa yang dilakukan bidang kemahasiswaan selama ini, pakar training ini mengungkapkan bahwa TOT ormawa masih jauh dari konsep training yang sesungguhnya. Hal itu dapat dilihat pertama dari metode yang digunakan hanya ceramah saja, sehingga tujuan yang diharapkan tidak mengena. “Yang dilakukan bidang kemahasiswaan selama ini (TOT-red) bukan training, tetapi baru tahap orientasi pada penyamaan persepsi tentang kemahasiswaan,” ujarnya. Ke-dua, jumlah peserta TOT yang mencapai ratusan, padahal training paling efektif apabila jumlah pesertanya 20 hingga 30 orang.
Melihat ketidaksesuaian yang telah disebutkan di atas, Soleh Amini mengatakan bahwa TOT ormawa perlu dirombak sistemnya. Mengenai pelaksanaannya ia mengatakan TOT harus dilakukan dalam dua session. Pertama adalah session umum atau tahap orientasi yakni dengan mengumpulkan semua ormawa untuk penyamaan persepsi tentang kemahasiswaan. Selanjutnya dilakukan klasifikasi ormawa menurut bidangnya, setelah itu baru diberikan training. “Setiap UKM mempunyai motivasi yang berbeda sehingga semua UKM tidak bisa digeneralisir,” jelasnya. Lebih lanjut Soleh Amini mengungkapkan tentang pengadaan training idealnya adalah dua kali dalam satu tahun kepengurusan tetapi dengan tingkatan yang berbeda, training pertama tingkat dasar dan training ke-dua tingkat madya.
Dana Kemahasiswaan Kurang Transparan
Di antara sekian permasalahan dalam TOT adalah tentang anggaran dana kemahasiswaan untuk masing-masing ormawa baik di tingkatan fakultas maupun universitas. Banyak yang menilai bahwa pihak universitas kurang transparan dalam menyampaikan anggaran dana kemahasiswaan, sehingga ormawa hanya “terima jadi”nya saja. Universitas tidak memberikan penjelasan mengenai dasar atau pedoman anggaran dana untuk masing-masing UKM. Sehingga yang terjadi adalah ketidakpuasan pada mahasiswa karena ada beberapa ormawa yang merasa anggaran dananya masih belum bisa memenuhi kebutuhannya.
Riyadh mengatakan bahwa pada dasarnya materi TOT sudah bagus asalkan materi satu dengan yang lain disampaikan secara proporsional. Namun dia menyayangkan masalah pendanaan yang tidak dimasukkan ke dalam materi sehingga universitas terkesan tidak transparan dalam hal pendanaan. “Pada dasarnya materinya bagus, ketika masalah pendanaan dimasukan kedalam materi sebenarnya tidak masalah, asalkan porsi materi yang diberikan harus sesuai dengan porsi materi yang lainnya,” ujar Riyadh.
Disinggung masalah pendanaan, Sudharto mengatakan bahwa sebenarnya hal itu ada rumusannya akan tetapi memang tidak disampaikan kepada mahasiswa. Ia menganalogikan dengan sebuah sekolah yang menetapkan sebuah kebijakan, tidak mungkin melibatkan para siswa di sekolah tersebut karena mereka hanya sebagai pengguna jasa pendidikan saja. begitu juga halnya dengan rancangan anggaran dana kemahasiswaan. Selanjutnya ia menjelaskan, sebelum TOT dilaksanakan ada rapat antara bidang kemahasiswaan dengan Wakil Dekan III (WD III) untuk membahas konsep penentuan dana per fakultas yang kemudian menghasilkan rumusan-rumusan. Pertimbangan-pertimbangnanya diperoleh dari perbandingan jumlah mahasiswa, jumlah lembaga, jumlah mahasiswa baru serta pengembangan masing-masing fakultas. Begitu juga dengan anggaran dana untuk ormawa di tingkat universitas juga sudah dirumuskan. kemudian menghasilkan rumusan-rumusan. Pertimbangan-pertimbangnanya diperoleh dari perbandingan jumlah mahasiswa, jumlah lembaga, jumlah mahasiswa baru serta pengembangan masing-masing fakultas. Begitu juga dengan anggaran dana untuk ormawa di tingkat universitas juga sudah dirumuskan.
Workshop, Alternatif Pengganti TOT
Mengingat bahwa TOT yang dilaksanakan selama ini belum ideal dan masih menyisakan banyak persoalan di tataran praksis, muncul wacana baru diadakannya workshop sebagai alternatif pengganti TOT. Contain workshop yang disertai aplikasi, bukan hanya materi, dirasakan lebih tepat dibandingkan TOT. Sehingga dengan diadakan workshop, diharapkan permasalahan-permasalahan yang masih mengambang dalam TOT bisa terjawab. Seperti halnya untuk materi sponsorship yang membutuhkan praktek langsung tidak mungkin dilakukan dalam TOT, tetapi hal itu bisa diadakan dalam format workshop. Selain itu untuk pembahasan masalah anggaran memang workshop-lah yang paling tepat, bukan TOT. Seperti yang dikemukakan oleh Riyadh bahwa anggaran dana yang disampaikan dalam TOT tidak substansial, karena ormawa tidak mengerti tentang rumusan anggaran yang dikeluarkan oleh pihak universitas dan pedoman apa yang mereka gunakan dalam perumusan anggaran tersebut. “Kita (ormawa-red) tidak tahu pedoman yang dijadikan untuk plotingan anggaran itu berasal darimana, statuta UMS atau pedoman lainnya. Kalau ormawa bisa mengerti dan paham akan pedoman yang disampaikan dalam anggaran dana kemahasiswaan ini bagus untuk ke depannya. Dan saya berharap workshop bisa menjawab akan hal ini, “ imbuh Riyadh.
Mengenai format ideal workshop, menurut Riyadh pelaksanaannya harus dilakukan secara berjenjang dan tidak parsial agar transformasi pemahaman dari universitas kepada mahasiswa bisa terserap seluruhnya.. Selain itu bukan hanya WR II saja yang terlibat, tetapi juga WR I dan WR II karena ketiga bidang tersebut saling terkait satu sama lain. Dan untuk mendukung suksesi acara ini, Riyadh menambahkan harus ada konsolidasi dan koordinasi pra workshop di tataran ormawa, hal ini dimaksudkan agar ada kesepahaman di antara pihak universitas dan mahasiswa akan acara itu sendiri.
Menanggapi hal ini, Sudharto tidak mempermasalahkan mengenai format apapun yang digunakan asalkan tujuan dari agenda tersebut tercapai dan bisa membawa perubahan yang lebih baik ke depan, dan yang terpenting adalah mahasiswa paham akan substansi acara itu sendiri. “Format apapun sepanjang itu menuju ke arah ke depan yang lebih baik, why not?” ujar Sudharto santai.
Meskipun demikian, kata Sudaharto, workshop tidak bisa sepenuhnya dilakukan karena tetap ada kekurangan pada format workshop tersebut. Di satu sisi workshop memang tepat untuk penjelasan dan pemahaman kebijakan, akan tetapi tidak bisa dijadikan tempat untuk pembahasan kebijakan.
Mengenai rencana TOT selanjutnya yang akan diadakan sekitar bulan Februari atau Maret 2009, Sudharto mengatakan bahwa TOT kemungkinan akan tetap dilaksanakan seperti sebelumnya, hanya saja settingan format dan materinya lebih disempurnakan. Sebelum pelaksanaan TOT, pihaknya (universitas-red) akan mengadakan audiensi dulu dengan mahasiswa untuk menampung aspirasi dari mahasiswa mengenai pelaksanaan TOT. Sudharto juga akan mempertimbangkan masukan yang ada mengenai konsep dan sistem pelaksanaan agenda tersebut.
Apapun format yang akan digelar untuk TOT ke depan, apakah tetap menggunakan sistem TOT atau workshop, atau dilakukan perombakan sistemnya dengan dua session pelaksanaan, diharapkan bisa menjawab permasalahan ormawa di tataran praksis dan bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa. Dan diharapkan universitas bisa lebih transparan lagi dalam menyampaikan kebijakan-kebijakannya terhadap mahasiswa sehingga bisa meminimalisir kesalahpahaman pada mahasiswa.]
DIarsipkan di bawah: Teropong