Belum cukup dengan Prodi (Program Studi) yang ada saat ini, UMS kedepannya masih berambisi membuka beberapa prodi baru. Lalu, apakah kurikulum yang ada selama ini belum mampu menjawab kebutuhan pasar ? Bagaimana pula dengan nasib Prodi yang kekurangan peminat ?
Oleh : Septiandi
Derasnya arus globalisasi menuntut kalangan dunia pendidikan untuk selalu siap menghadapi tantangan zaman yang semakin maju. Seiring dengan kemajuan zaman yang semakin modern, manusia dituntut untuk selalu bisa menyesuaikan diri terhadap segala perkembangan. Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan, mulai dari konsep hingga ke tataran praktis semua membutuhkan perubahan dan perbaikan disegala lini. Eksistensi sebuah Perguruan Tinggi Swasta saat ini memang benar-benar dipertaruhkan.
Perubahan Kurikulum
Dalam pelakasanaannya, suatu kurikulum harus mempunyai relevansi atau kesesuaian. Kesesuaian tersebut paling tidak mencakup dua hal pokok. Pertama relevansi antara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi serta perkembangan masyarakat. Kedua relevansi antara komponen-komponen kurikulum. Universitas Muhammadiyah Surakarta sebagai institusi pendidikan tidak mau ketinggalan akan perkembangan yang terjadi di dunia luar. Begitu pula dengan instrumen didalamnya, mulai dari sarana dan prasrana hingga kurikulum yang disesuaikan dengan tuntutan zaman. Secara periodikal kurikulum dalam sebuah prodi akan dievaluasi setiap lima tahun sekali. sebuah prodi akan dievaluasi setiap lima tahun sekali.
Kebutuhan akan tenaga kerja siap pakai saat ini merupakan sebuah realitas yang terjadi di- tengah-tengah masyarakat. Perguruan Tinggi sebagai tidak hanya menjadi pusat pengembangan keilmuan, tetapi bagaimana mencetak kualitas mahasiswanya dengan berbagai cara agar siap terjun di dunia kerja. Masalah pelik yang dihadapi oleh institusi pendidikan saat ini adalah pangsa pasar yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Sebagai contoh kasus Fakultas Geografi sendiri pada kuri-kulum tahun 2002, dalam kurikulum tersebut mencakup Geografical Information System (GIS) yang kelulusannya diproyeksikan sebagai asisten tenaga ahli, namun pada kenyataannya hanya sebagai operator saja. ”Ini kan bisa dibilang sudah keluar jalur atau rancangan awal sebuah kurikulum,” tutur Amin Sunarhadi, selaku ketua Pokja (Kelompok Kerja) Kurikulum Geografi, Jum’at (18/4).
Untuk itu, tuntutan akan pembaruan kurikulum yang begitu cepat tidak bisa dielak-kan lagi. Menurut Musyiam selaku Wakil Rektor I mengatakan, kurikulum itu sendiri ditinjau secara reguler empat tahun sekali, apakah masih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, keilmuan, maupun kontennya. ”Yang palig banyak mengalami perubahan yaitu mengenai metode atau konten,” ungkapnya.
Peranan Universitas terhadap keberlangsungan prodi disetiap Fakultas sangatlah penting, mengingat arah dan tujuan sebuah prodi harus satu visi dengan cita-cita besar kampus ini. Kebijakan Universitas akan pengembangan kurikulum disetiap prodi sebatas jumlah SKS, yakni untuk program sarjana sebanyak 144-146 SKS, selebihnya kewenangan berada ditiap-tiap program studi. “Ini yang dinamakan disentralisasi,” tegas Musyiam. Selain itu, kompetensi dari universitas hanya beberapa mata kuliah yang bersifat pengembangan skill seperti kemampuan Bahasa Inggris, Al-Islam, dan Kemu-hammadiyahan.