Inggris, Al-Islam, dan Kemu-hammadiyahan.
Sarana Lab
Perubahan kurikulum belum sejalan dengan peningkatan sarana laboratorium yang memadai. Hal ini masih terkendala diwilayah operasional atau peralatan pendukung laboratorium yang belum memadai, mengingat fungsi laboratorium sebagai ajang pengaplikasian teori-teori yang ada dalam perkuliahan membantu mahasiswa dalam penyerapan materi. ”Sebenarnya pada tahun 2002 kurikulum Geografi sudah dibentuk dengan basis laboratorium, namun terkendala di wilayah operasional dalam artian pada tataran konsep kurikulum sebenarnya sudah matang, tapi terbentur oleh sarana laboratorium yang belum mendukung,” tambahnya.
Sementara itu, di tempat terpisah Musyiam mengatakan, sistem laboratorium di UMS yang dipakai yaitu ‘Common Us’ dengan kata lain laboratorium yang sama dipakai dari berbagai program studi, penerapan sis-tem semacam ini dalam rangka efisiensi sarana praktikum. “Itu (common us, red) lebih efisien,” tukasnya. Penerapan ‘Common Us’ hanya pada mata kuliah tertentu yang sifatnya umum semisal Fisika. Namun tidak seluruh prodi menggunakan sarana laboratorium yang sama, ada beberapa prodi yang benar-benar memerlukan sarana laboratorium khusus seperti Geografi, Kedokteran, dan Ilmu Komunikasi.
Pentingnya Sosialisasi
Ketatnya persaingan antar Perguruan Tinggi Swasta dalam menjaring siswa baru memang tidak bisa dielakkan. Berbagai program ditawarkan dengan keunggulannya masing-masing sebagai strategi menggaet calon siswa. Namun, persoalan yang ada semakin kompleks dan melebar sehingga minat siswa terhadap sebuah prodi tertentu menjadi minim. Kecenderungan yang terjadi di masyarakat saat ini sudah mulai bergeser terhadap prodi-prodi tertentu, seperti pada prodi Ekonomi Pembangunan, Ushuluddin, dan Geografi. Secara makro, fenomena ini memberikan dampak yang kurang baik terhadap beberapa Perguruan Tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan minat para siswa terhadap beberapa prodi tersebut. Sangat disayangkan fenomena seperti ini berakibat pada penutupan prodi tertentu yang dianggap kurang memenuhi kuota minimal. “Program studi Ilmu Kesehatan terpaksa kami tutup karena hanya tujuh mahasiswa yang mendaftar,” jelas Musyiam. Faktor dominan yang paling mempengaruhi menurunnya minat siswa akan prodi tertentu adalah image dan kebutuhan pasar yang masih lemah. Ini didorong dengan masih kurangnya pengetahuan masyarakat itu sendirimelebar sehingga minat siswa terhadap sebuah prodi tertentu menjadi minim. Kecenderungan yang terjadi di masyarakat saat ini sudah mulai bergeser terhadap prodi-prodi tertentu, seperti pada prodi Ekonomi Pembangunan, Ushuluddin, dan Geografi. Secara makro, fenomena ini memberikan dampak yang kurang baik terhadap beberapa Perguruan Tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan minat para siswa terhadap beberapa prodi tersebut. Sangat disayangkan fenomena seperti ini berakibat pada penutupan prodi tertentu yang dianggap kurang memenuhi kuota minimal. “Program studi Ilmu Kesehatan terpaksa kami tutup karena hanya tujuh mahasiswa yang mendaftar,” jelas Musyiam. Faktor dominan yang paling mempengaruhi menurunnya minat siswa akan prodi tertentu adalah image dan kebutuhan pasar yang masih lemah. Ini didorong dengan masih kurangnya pengetahuan masyarakat itu sendiri
Sementara itu, menurut Yuli Priana selaku Dekan Fakultas Geografi mengungkapkan ada dua faktor yang mempengaruhi penurunan minat mahasiswa terhadap Fakultas Geografi, pertama faktor ekstern yaitu PTN sekarang membuka banyak program studi sehingga calon mahasiswa lebih terserap ke- sana. Sedangkan faktor intern itu sendiri dari jumlah pendaftar yang relatif berkurang. ”Namun secara umum masih baik,” tuturnya. Selain itu masyarakat saat ini masih banyak yang ti-dak tahu akan Geografi se-hingga mempengaruhi minat calon mahasiswa itu sendiri.
Perkembangan ilmu Geografi di Indonesia memang belum seperti negara-negara maju di- dunia. Pemahaman masyarakat Indonesia yang masih awam akan geografi itu sendiri agaknya menjadi kendala bagi Perguruan Tinggi Swasta khususnya UMS dalam menjaring lebih banyak siswa. Berbagai upaya dilakukan pihak Fakultas untuk lebih memberikan informasi kepada masyarakat akan ilmu Geografi yang sebenarnya. Mulai dari seminar hingga sosialisasi ke sekolah-sekolah. Amin menuturkan, kegiatan seperti itu (sosialisasi, red) sudah dilaksanakan oleh pihak Fakultas Geografi sejak tahun 1997 atau yang disebut PPAG (Pengenalan dan Penerapan Alat-Alat Geografi). Awal mulanya program tersebut berjalan sebatas sosialisasi dan tidak ada keterikatan antara kedua belah pihak yang saling bekerjasama, namun pada tahun 2002 mulai digagas semacam nota kesepahaman (MoU) sehingga terjalin simbiosis mutualisme.khususnya UMS dalam menjaring lebih banyak siswa. Berbagai upaya dilakukan pihak Fakultas untuk lebih memberikan informasi kepada masyarakat akan ilmu Geografi yang sebenarnya. Mulai dari seminar hingga sosialisasi ke sekolah-sekolah. Amin menuturkan, kegiatan seperti itu (sosialisasi, red) sudah dilaksanakan oleh pihak Fakultas Geografi sejak tahun 1997 atau yang disebut PPAG (Pengenalan dan Penerapan Alat-Alat Geografi). Awal mulanya program tersebut berjalan sebatas sosialisasi dan tidak ada keterikatan antara kedua belah pihak yang saling bekerjasama, namun pada tahun 2002 mulai digagas semacam nota kesepahaman (MoU) sehingga terjalin simbiosis mutualisme.
Terkait dengan sosialisasi, beberapa waktu yang lalu diselenggarakan seminar de-ngan guru-guru SMU se-Jawa Tengah. Ketika ditanya mengenai seminar yang dilaksanakan beberapa waktu lalu dalam rangka menyusun sebuah kurikulum baru, Amin pun menampiknya. “Seminar dengan guru-guru SMU se-Jateng yang diselenggarakan beberapa waktu lalu sebenarnya tidak dalam rangka menyusun sebuah konsep kurikulum yang baru, namun dalam pertemuan tersebut lebih sebagai ajang sosialisasi kepada SMU-SMU akan ilmu geografi yang sebenarnya. Dengan sosialisasi tersebut, diharapkan bisa mengukur sejauh mana perkembangan ilmu Geografi yang diajarkan di sekolah-sekolah,” tukasnya.
Geografi Buka Prodi Baru ?
Melihat perkembangan institusi pendidikan yang semakin melebarkan sayapnya dengan membuka prodi baru sebagai pemenuhan kebutuhan pasar tergantung dari sisi mana kita melihat, amin menegaskan, dari sisi kebutuhan manajemen institusi swasta, ya bisa dikatakan sebagai pemenuhan kebutuhan pasar.
Untuk itu, perkembangan tenaga pengajar yang semakin dibutuhkan, memunculkan inisiatif dari pihak Fakultas untuk membuka prodi baru yakni Program Studi Pendi-dikan Geografi. Program yang rencananya dibuka pada tahun ajaran 2009/2010 ini memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar akan tenaga pendidik di bidang Geografi. “Insya Allah tahun ajaran depan Fakultas Geografi akan membuka prodi baru yaitu FKIP Geografi,” jelas Yuli Priana.
Namun, pembukaan prodi FKIP Geografi secara adminis-tratif tetap di bawah naungan FKIP. Sebab, itu merupakan sebuah aturan yang baku, “itu sudah ada konsorsiumnya, jadi, tidak bisa kita mengubah atau melanggar konsorsium tersebut,” tegas Yuli.
Didalam jurusan Pendidikan Geografi nantinya, aspek pe-dagogik memang sangat ditonjolkan. ”Hal ini penting, karena terkait dengan kemam-puan mengajar seorang pen-didik yang mesti diasah terus me-nerus,” cetus Amin Sunarhadi.
Sebenarnya di Fakultas Geografi sendiri ada tiga prodi, yang pertama Geografi MIPA seperti yang ada sekarang ini, yang kedua Geografi Ling-kungan, dan yang ketiga Pendidikan Geografi. “Namun semua itu kembali ke meka-nisme pasar, artinya kita me-lihat kebutuhan pasar yang ada saat ini,” ungkapnya. Untuk Prodi Geografi Lingkungan memang belum bisa dibuka, karena minat masyarakat akan jurusan tersebut belum begitu tinggi. Tidak seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan seperti yang ada saat ini yang setiap tahunnya mengalami kenaikan jumlah mahasiswa, tutup Yuli.]
DIarsipkan di bawah: Lipsus