Peningkatan standar kelulusan dan pnambahan mata pelajaran yang diujikan menjadi senjata utama pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Alhasil, beban psikis yang dialami siswa pun semakin bertambah pula.
Oleh: Novrika M.S dan Murti Sari Utami
Peran penting pemerintah dalam menentukan sistem UN sebagai formula strategi evaluasi demi meningkatkan kualitas pendidikan dirasa masih mengundang pro dan kontra. Pasalnya, UN tahun pelajaran 2007/2008 ternyata makin mendulang perdebatan dan kritik dari masyarakat. Melalui Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP), Depdiknas, menambahkan beberapa mata pelajaran dasar yang diujikan dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) bagi siswa SMA dan setingkat lainnya.
Langkah yang diambil pemerintah dalam UN 2008 ini otomatis menambah beban psikis siswa karena ditengah SKL yang melambung tinggi, siswa juga dijejali dengan soal-soal hasil studinya selama tiga tahun, sedangkan kelulusan siswa hanya ditentukan dalam waktu tiga hari. UN yang dilaksanakan serentak pada tanggal 22-24 April 2008 lalu sepertinya masih menyisakan beban berat siswa karena selain faktor peningkatan SKL mata pelajaran yang diujikan, bahkan kriteria kelulusan hingga berita ini diturunkan mereka masih menunggu kepastian lulus tidaknya yang akan diumumkan serentak pada tanggal 14 Juni mendatang.
Jika beban siswa yang begitu berat tidak diimbangi dengan kebutuhan spiritual akan hiburan kemungkinan terburuk siswa dapat mengalami stres yang mengarah ke depresi. Hal tersebut juga diamini oleh Juliani Prasetyaningrum, pakar psikologi. Dia berpendapat bahwa kemungkinan berat beban psikis yang dialami siswa dapat mengarah ke stres dan bahkan depresi. “Rata-rata dengan kondisi seperti itu (tekanan kelulusan, red) sangat mungkin mengalami tekanan psikologis. Bisa saja depresi jika keadaan psikologisnya tidak kuat,” jelasnya.
Penambahan Mata Pelajaran dan SKL
Penambahan mata pelajaran yang diujikan dan SKL merupakan terobosan baru pemerintah guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ditemui Pabelan Pos disela-sela kesibukannya, pakar pendidikan Harun Joko Prayitno mengungkapkan model ujian tahun ini merupakan hasil evaluasi ujian kemarin. ”Model ujian baru dan berganti-ganti dikarenakan masih terdapat celah pada model-model ujian sebelumnya,” ungkapnya. terobosan baru pemerintah guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Ditemui Pabelan Pos disela-sela kesibukannya, pakar pendidikan Harun Joko Prayitno mengungkapkan model ujian tahun ini merupakan hasil evaluasi ujian kemarin. ”Model ujian baru dan berganti-ganti dikarenakan masih terdapat celah pada model-model ujian sebelumnya,” ungkapnya.
Dia menduga kelemahan yang terjadi karena sikap mental bangsa yang jelek sehingga menimbulkan kebocoran pada soal ujian. ”Untuk mekanisme ujian sekarang ini sudah bagus dari segi pembelajaran, bahan ajar dan sebagainya, yang belum bagus hanyalah masalah kultur (sikap mental, red) sehingga masih terjadi kebocoran soal,” imbuhnya.
Sementara itu, Etik, peserta UN 2008 juga berpendapat soal yang diberikan sekolah sesuai SKL sebagai acuan soal UN dirasa kurang efektif. ”Soal yang sesuai SKL yang diberikan dari pihak sekolah berbeda jauh dengan soal UN membuat saya kaget ketika mengerjakan, mending tidak usah dikasih dari pada kita terpancang dengan itu,” keluhnya.
Hal senada juga dikatakan oleh Rini yang juga peserta UN 2008. Menurut dia, untuk UN tahun depan tidak perlu diberikan soal semacam itu karena hanya mengkotak-kotakkan siswa dengan apa yang mereka pelajari.
Dalam kesempatan lain, Hariyanto, guru mapel Akuntansi SMAN 4 Surakarta mengatakan soal yang diberikan pihak sekolah disesuaikan dengan SKL dan diambil dari BSNP. ”Soal setiap tahun hampir sama, kalau mereka mengeluh tentang SKL dari BSNP saya rasa kurang sosialisasi saja,” jelasnya.
mengeluh tentang SKL dari BSNP saya rasa kurang sosialisasi saja,” jelasnya.
Di sisi lain peningkatan Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) dari 5,00 menjadi 5,25 menyisakan beban berat bagi siswa belum lagi ditambah kriteria penilaian demi menerobos dinding kelulusan dirasa sangat berat. Seperti yang diungkap Kepala Sekolah SMAN 7 Surakarta, Endang Sri K, saat ditemui Pabelan Pos di kantornya, Rabu (23/4). Dia mengatakan standar kelulusan untuk jenjang SMA harus memenuhi syarat, untuk kriteria pertama yaitu rata-rata minimal 5,25 dengan tidak ada nilai dibawah 4,25. Apabila kriteria pertama tidak tercapai, maka ada kriteria kedua yang mensyaratkan boleh terdapat nilai 4,00 hanya ada pada satu pelajaran yang di UN-kan dan lima mata pelajaran yang lainnya harus mencapai nilai sekurang-kurangnya 6,00 dan mencapai nilai rata-rata minimal 5,25.
Harun Joko Prayitno juga menambahkan SKL menjadi hal yang penting guna memotivasi siswa. ”Target tetap perlu, agar menjadi motivasi untuk anak,” ungkapnya. Dia juga menambahkan setuju dengan standar yang ditetapkan, namun mutu PBM (Pemilihan Bobot Materi) juga harus ditingkatkan. ”Percuma saja jika standar nilai dinaikan tapi bobot soal diturunkan,” tutupnya.
Peningkatan Mutu Sama Dengan Peningkatan Beban Psikis
Berbeda dengan tahun sebelumnya, UN 2008 ini dirasa oleh beberapa kalangan justru menambah berat beban psikis siswa. Perasaan yang begitu tinggi, kalau sedang mengerjakan membuat saya tidak tenang,” tambahnya saat ditemui Pabelan Pos, Rabu (23/4).
DIarsipkan di bawah: Liput, Uncategorized