tertekan dan khawatir kerap menyelimuti Rini, salah satu peserta UN 2008. ”Kadang perasaan jenuh itu ada rasanya pengen refreshing capek menghadapi soal,” ungkapnya. Standar Kompetensi Lulusan yang melambung tinggi juga menjadi momok tersendiri bagi siswa. ”Apalagi standar kelulusan yang begitu tinggi, kalau sedang mengerjakan membuat saya tidak tenang,” tambahnya saat ditemui Pabelan Pos, Rabu (23/4).
Di tempat yang sama, Etik, peserta UN 2008 mengeluhkan penambahan mata pelajaran yang diujikan menjadi beban tersendiri baginya. Hal tersebut dikarenakan mata pelajaran yang diujikan dari tiga mata pelajaran menjadi enam mata pelajaran. ”Saya harus belajar ekstra bahkan saya jenuh menghadapi soal-soal, belum lagi penambahan mata pelajaran,” tandasnya.
Di tempat terpisah, Yoga, yang juga peserta UN 2008 mengaku soal adanya perbedaan yang signifikan antara soal UN dan soal latihan selama ini, soal UN dirasa lebih sulit. ”Belum terbebani dengan standar 5.25, malah soal UN kebanyakan lebih sulit dari pada soal latihan membuat saya pesimis dengan jawaban saya,” keluhnya.
Tekanan psikis yang dialami siswa juga menjadi perhatian khusus bagi Endang Sri K, Kepala Sekolah SMUN 7 Surakarta. Beliau mengungkapkan adanya tekanan pada siswa menjelang UN. ”Otomatis ada tekanan karena memang ujian penentuan masa depan,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Juliani Prasetyaningrum pakar psikologi mengungkapkan, kekhawatiran ketidaklulusan dapat dijadikan sebagai motivasi belajar yang tinggi. ”Ketakutan ketidaklulusan itu menjadi stressor yang mana jika itu bisa di manage atau ditangani bisa menjadi pemacunya (penyemangat, red),” ungkapnya. Di sisi lain, beliau juga menambahkan kekhawatiran tersebut juga dapat berakibat buruk pada saat ujian berlangsung. ”Jika stressor tidak dapat di-manage, maka ketakutan itu menjadi momok, sesuatu yang menakutkan dan bisa mengganggu performance,” jelas Juliani disela-sela kesibukannya. Dengan kata lain, stres mempengaruhi performance. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa stres dalam taraf tertentu dapat berakibat positif. Dengan adanya stres yang proposional dapat menjadi pendorong untuk bekerja lebih keras. Sedangkan stres negatif muncul ketika subjek tidak mampu menangani atau mencari solusi dari stresnya itu berpengaruh terhadap performancenya.
”Ketakutan ketidaklulusan itu menjadi stressor yang mana jika itu bisa di manage atau ditangani bisa menjadi pemacunya (penyemangat, red),” ungkapnya. Di sisi lain, beliau juga menambahkan kekhawatiran tersebut juga dapat berakibat buruk pada saat ujian berlangsung. ”Jika stressor tidak dapat di-manage, maka ketakutan itu menjadi momok, sesuatu yang menakutkan dan bisa mengganggu performance,” jelas Juliani disela-sela kesibukannya. Dengan kata lain, stres mempengaruhi performance. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa stres dalam taraf tertentu dapat berakibat positif. Dengan adanya stres yang proposional dapat menjadi pendorong untuk bekerja lebih keras. Sedangkan stres negatif muncul ketika subjek tidak mampu menangani atau mencari solusi dari stresnya itu berpengaruh terhadap performancenya.
Bimbel Sebagai Tempat Pelarian
Menjelang UN merupakan momentum yang tepat bagi bimbel untuk mengeksplorasi diri. Pasalnya, momentum itulah gencar-gencarnya bimbel melakukan promosi ke siswa. Akan tetapi dari beberapa pendapat, kurangnya pengaruh bimbel luar sekolah dirasakan oleh beberapa siswa kelas tiga SMA. ”Pengaruh bimbel kecil terhadap soal UN karena yang diajarkan di bimbel hanya hitungan saja, teorinya kurang,” kata siswi kelas tiga salah satu SMA di Surakarta, Etik, saat ditemui Pabelan Pos setelah UN berlangsung. Ketika ditanya mengenai alasan utama ikut bimbel, dia mengatakan untuk persiapan UN dan meminimalisir kekhawatiran tidak bisa mengerjakan. ”Ikut bimbel untuk persiapan UN, paling tidak kalau sudah ikut ya hati menjadi tenang,” tambahnya. sudah ikut ya hati menjadi tenang,” tambahnya.
Sedangkan menurut salah satu siswa SMA Negeri di Surakarta, Yoga, mengaku materi yang diajarkan oleh bimbel ada yang berpengaruh dan tidak. ”Dari bimbel lebih banyak mengerjakan soal hitungan, sedangkan UN-nya seperti kimia kebanyakan teori,” ungkapnya selepas hari terakhir UN.
Terpisah, Tri Agus Suhartono, Ketua Bimbel Primagama Cabang Manahan mengatakan bimbingan belajar pada dasarnya membantu siswa yang kesulitan belajar. ”tujuan bimbel kan membantu belajar siswa,”ungkapnya. Strategi selama ini yang yang diberikan bimbel ketika menjelang UN adalah men-drill siswa dengan soal-soal yang disesuaikan SKL.”kami (bimbel-red) tidak memberikan materi, Trik dari kami adalah men-drill siswa dengan soal-soal,”tambahnya. Soal yang diberikan dari bimbel selain disesuaikan dengan SKL juga disesuaikan dengan kurikulum.”soal sesuai SKL dan kurikulum,”tutupnya.
Peran Bimbel ternyata tidak hanya sebagai tempat memperdalam edukasi saja, akan tetapi dapat juga dijadikan sebagai alternatif lain untuk meminimalisir kekhawatiran. ”Bimbel merupakan tempat pelarian dalam batas-batas dan orang-orang tertentu, tetapi itu bukan kesimpulan signifikan. Bimbel dapat menjadi alternatif untuk mengurangi stres,” ujar Juliani Prasetyaningrum, pakar psikologi yang juga sebagai dosen psikologi UMS saat ditemui Pabelan Pos Senin (28/4) di ruang kerjanya. Terlebih apabila bimbel didukung tutor yang kompeten maka fungsi edukasinya sangat optimal. ”Jika bimbel atau tutor diberikan oleh orang yang kompeten dan itu untuk membantu memahami materi lebih optimal, ” tambahnya.diberikan oleh orang yang kompeten dan itu untuk membantu memahami materi lebih optimal, ” tambahnya.
Sementara itu, pakar pendidikan Harun Joko Prayitno, berpendapat bahwa tidak menutup kemungkinan peran bimbel justru akan mengebiri peran orang tua dan guru. ”Pada bimbel sebenarnya terjadi pendangkalan materi melalui metode pembelajaran, disisi lain bimbel dapat juga memotong proses belajar, memotong peran dan kewajiban orang tua, memotong peran dan kewajiban guru.” ungkapnya kepada Pabelan Pos, Senin (28/4).
Upaya Menghindari Beban Psikis
Berbagai cara dilakukan baik pihak sekolah maupun siswa itu sendiri demi mengurangi beban psikis siswa yang dirasa semakin berat. Kepala Sekolah SMAN 7 Surakarta, Endang Sri K, saat ditemui Pabelan Pos di kantornya, Rabu (23/4), menyatakan pihak sekolah melakukan upaya meminimalisir beban psikologi siswa.” Usaha dari sekolah yaitu latihan ujian dan doa bersama,” ungkapnya. Ketika ditanya mengenai terapi khusus bagi siswa beliau mengatakan bahwa sejauh ini belum ada. ”Kami belum melangkah kearah itu”, tambahnya.
Hal senada juga diungkap Hariyanto, guru mapel Akuntansi SMAN 4 Surakarta. Beliau mengaku pihak sekolah sejauh ini hanya memberikan refreshing dan doa bersama. ”Upaya terapi belum ada, kami memberikan refreshing semacam hari tenang dan doa bersama saya rasa sudah cukup,” ungkapanya Rabu (23/4).
Di lain pihak, Yoga, siswa SMU kelas tiga mengaku jika stres melanda dirinya hanya melakukan pekerjaan yang dia senangi sebagai upaya merefreshkan pikirannya, ”biasanya saya makan dan nonton TV saat jenuh belajar,” ungkapnya.
Berbeda dengan Rini, yang juga peserta UN mengaku upaya yang dilakukan adalah makan coklat, ”saya makan coklat kalau stres datang,” akunya. Menurut Juliani Prasetyaningrum, stres yang dialami siswa dapat diminimalisir oleh siswa itu sendiri. ”Stres dapat diminimalisir dengan memanage stres yang bersifat individual atau personal,” ungkapnya. Menurutnya hal tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara subjek mandalami penyebab stressor dan di deskripsikan. Kemudian subjek membayangkan hal paling buruk yang mungkin terjadi dari rasa takutnya. Lantas subjek mencari solusi dari hasil retrospeksi diatas. Dan solusinya itu dipersiapkan sebelum subjek menghadapi langsung stressornya.]
DIarsipkan di bawah: Liput