• Rubrikasi

  • Database

  • Meta

  • Locked Virus

Abdi Intelektual Merakyat

Atribut kaum intelektual yang disandang mahasiswa mempunyai peran sebagai agen perubahan dalam masyarakat bahkan bangsa. Akan tetapi, atribut tersebut ternyata tidak lepas dengan citra negatif mahasiswa yang suka membuat keributan dan kerusakan dalam menyelesaikan masalah. Menjadi agen yang langsung bersentuhan langsung dengan masyarakat pun menjadi terasa jauh karena mahasiswa masih menemui kebingungan di lapangan. Namun setidaknya, niat mulia untuk mengubah masyarakat menjadi lebih baik dapat ditunjukkan dengan berbagai cara yang baik pula.

Oleh: Tarmiyanti dan Asep

Jikalau seorang sadar bahwa ia hidup dalam masyarakat, pastilah akan serta merta secara sukarela aktif membantu ataupun membangun keadaan masyarakat tersebut. Suatu saat nantinya orang tersebut juga akan membutuhkan masyarakat itu juga. Mahasiswa yang dipandang sebagai kaum terpelajar setidaknya tidak menjadikan atribut tersebut sebagai ruang pembatas untuk membantu dan menyatu dengan masyarakat. Khotimatun Na’imah Mahasiswi Psikologi semester delapan ketika ditemui Pabelan Pos bersedia membagikan pengalamannya ketika aktif disebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Keaktifannya di LSM Seroja Surakarta yang bergerak dalam bidang pemberdayaan perempuan dan anak jalanan didasari atas niat sederhana untuk membantu masyarakat. Bahwa antara elemen masyarakat dan diri seseorang (mahasiswa, red), keduanya tidaklah dapat terlepas dan pastinya saling membutuhkan. ”Kita ikut hidup di dalamnya dan akan selalu butuh dengan masyarakat juga. Menurutku yang terpenting yakni diri kita bisa bernilai buat orang lain (bisa membantu),” ungkap mahasiswa yang juga dikenal sebagai Administrasi dalam Alumni Career and Employement Center (ACEC) UMS.
Menurutnya, Seroja adalah wadah yang sangat bermanfaat bagi dirinya ataupun orang (masyarakat, red) yang dibantu baik secara materiil maupun imateriil. Misalnya,  welas asih yang ditunjukkan Seroja adalah dengan memberikan bantuan materi kepada keluarga yang membutuhkan. Akan tetapi, itu bukanlah tujuan utamanya. Santunannya lebih didedikasikan untuk mendidik masyarakat dengan memberikan pengetahuan tentang pendidikan seksual, pengajian TPA, pelatihan musik Islami (nasyid), perpustakaan gratis, dan sebagainya. “Masyarakat merasa senang, tenggapannya pun bagus. Kebanyakan dari mereka yang dibantu sangat mendukung program-program tersebut,” jelas Khotim sambil mengenang keaktifannya dulu di Seroja.
Namun di balik itu semua, juga tidak luput dari masalah pun kendala yang kadang menyertai usaha tersebut. Akan tetapi, hal itu tidak menjadikan orang-orang yang ada di Seroja putus asa. ”Masalah atau kendala yang ada tidak menjadikan halangan bagi kita. Pernah kita menemui masalah, misalnya salah satu anggota diancam preman setempat ketika menyuluhkan program di jalan-jalan raya. Namun untungnya tidak terjadi apa-apa, yang penting adalah tahu keadaannya saja,” tutur mahasiswi yang mengambil twining program dengan Jurusan Tarbiyah di UMS ini bijak.
Masih menurutnya, peran mahasiswa dalam masyarakat sangatlah penting dalam hal membantu ataupun menyumbangkan daya pikirannya. Sayangnya, mahasiswa di lapangan yang terjun langsung tidaklah banyak sehingga dirinya mengharapkan agar mahasiswa sadar dalam hal itu. ”Saya menyarankan untuk yang masih enggan membantu masyarakat, agar berusaha peka dan paham lingkup sekitar dahulu. Mungkin dari itu mahasiswa tersebut mampu merasakan kehidupan sekitar. Yang utama, tulus dan berani,” pesannya mantap.
Adapun, Bondan Kusuma, mahasiswa Fakultas Ekonomi UMS memilih cara berbeda menjadi mahasiswa. Menjadi agen perubahaan ditunjukannya dengan terjun langsung ke masyarakat, bersama rekan-rekan mahasiswa dari beberapa universitas, merintis serta menjadi relawan Aid for Children Education (ACTION).
Lembaga yang bergerak di bidang pendidikan ini didirikan pada 21 Desember 2007 di Solo oleh mahasiswa dari universitas berbeda diantaranya UMS, UNS, UMY, dan UNPAD. Bermula dari kesadaran dan kepedulian mulia terhadap kondisi pendidikan anak bangsa, Bondan cs ingin membangun pendidikan sebagai fondasi kuat untuk mengentaskan kemiskinan di negara berkembang seperti Indonesia ini.
Walau baru beranggotakan delapan orang dalam perintisannya, ACTION yang digawangi Bondan ini telah menunjukkan aksinya dalam membantu inventarisasi perpustakaan Sekolah Dasar Wonosari 1 Sumber, Surakarta. Di dalam aksinya, ACTION sebagai lembaga independen ini juga menggaet UNICEF dan UNESCO dalam pengadaan buku termasuk juga buku cerita anak.
“Adanya ACTION ini untuk membantu anak-anak dalam rangka menumbuhkan kembali minat baca anak terhadap buku sebagai antisipasi terhadap permainan modern yang dapat membuat anak lupa waktu, seperti game online ataupun internet,” ungkap Bondan kepada Pabelan Pos.
Tanggapan masyarakat pun lumayan bagus dengan adanya kemauan guru dalam memantau program pasca inventarisasi perpustakaan. “Pertama kali turun ke lapangan, kami kecewa melihat gan tenaga seadanya, hasilnya juga cukup memuaskan melihat antusiasme anak mendatangi perpustakaan untuk menimba ilmu dan membaca di perpustakaan,” tambah Bondan.banyaknya fasilitas di perpustakaan yang tidak terawat dengan baik sampai seperti gudang. Namun, setelah kami tata dengan tenaga seadanya, hasilnya juga cukup memuaskan melihat antusiasme anak mendatangi perpustakaan untuk menimba ilmu dan membaca di perpustakaan,” tambah Bondan.
Selain SDN 1 Wonosari, Bondan cs juga telah melakukan survei ke beberapa Sekolah Dasar yang dijadikan sasaran program berikutnya seperti SDN 2 Gonilan, Kartasura. Rencananya, program ACTION nantinya akan dikembangkan dengan adanya program kesenian untuk anak seperti seni musik dan tari. “Sayangnya, lokasi kampus yang saling berjauhan antar anggota membuat koordinasi belum maksimal sehingga belum banyak program yang terlaksana,” keluh Athur, anggota ACTION dari UNPAD.
Namun demikian, aksi mahasiswa mewujudkan cita-cita mulia dalam rangka mewujudkan Indonesia lebih baik setidaknya telah dirasakan langsung dalam masyarakat. Begitu juga semangat mahasiswa yang mau dengan tulus membantu masyarakat secara langsung ini sekiranya dapat mengikis anggapan publik yang mencitrakan mahasiswa sebagai pembuat keributan.
“Mahasiswa sebagai penerus bangsa tidaklah layak bila melakukan demo sampai merusak fasilitas, itu sama saja merusak bangsa dong. Kalau seperti itu, dimana budaya timur yang halus itu?” tutur Bondan yang saat ini masih konsen di Jurusan Manajemen semester akhir.
“Ya, semua itu kembali lagi ke orangnya. Mereka sudah bukan anak kecil lagi, mereka anarkis itu atas keinginan sendiri atau ada provokasi? Lebih baik lakuin aja, jangan hanya NATO alias Not Action Talk Only,” saran Athur kepada mahasiswa yang masih bingung untuk terjun langsung ke masyarakat untuk membangun Indonesia.]

Tinggalkan Balasan