• Rubrikasi

  • Database

  • Meta

  • Locked Virus

Sport Junkis dan Elegan

Motor garang jadi Sport Junkis dan Elegan, kesan itulah yang mencoba diciptakan Arnomo Sedayu, mahasiswa Teknik Mesin pada rubrik otomotif Pabelan Pos edisi 80 ini. Hal ini diambil untuk menghapus image kebanyakan orang yang menganggap motor Rx-King identik dengan motor ‘jambret’. “Sebenarnya motor Rx-King juga bisa dibuat kesan manis,” ungkap Arnomo saat ditemui Pabelan Pos di bengkel biasa dia nongkrong.
Sebenarnya hanya mengurusi masalah warna sudah cukup untuk ciptakan kesan itu, tapi tidak untuk cowok asal Tegal ini. Banyak hal yang meski ia lakukan agar tujuanya tercapai.
Tahap awal, Arnomo mengganti slebor depan standart milik Jupiter Mx. Hal ini dilakukan agar slebor depan terlihat lebih marapat dengan roda. Selanjutnya untuk pelek-pelek dipasang racing, ukuran ring 17 untuk depan dan ring 18 untuk belakang yang sekaligus dengan pemasangan cakram, yaitu cakram depan set bercaliper brembo dua piston dan cakram belakang piringan milik Satria. Masih masalah kaki-kaki, untuk roda Arnomo menggunakan ban mizzle 80-80 untuk depan dan 90-80 untuk belakang. Agar body pengendara lebih terlihat naik saat berkendara, ia mengganti stank orisinil dengan stank milik Ninja. Hal ini akan membuat bodi motor terlihat lebih tinggi depan dari pada belakang. Kaki-kaki depan selesai kini tinggal mengurusi kaki-kaki belakang.
Shock breaker standar kurang puas nampaknya bagi Arnomo jika tidak ikut di modif, dengan itu ia memasang  ayun type super track yang kemudian di coak beberapa centimeter, hal ini mengharuskan rantai dipotong empat mata. Dengan pemotongan ini secara otomatis roda belakang akan menjorok kedepan beberapa centimeter. Nah, akhirnya memasuki tahap finishing yaitu permak warna. shock breaker KYB. Swim arm pun juga meski dirubah, ia gunakan lengan ayun type super track yang kemudian di coak beberapa centimeter, hal ini mengharuskan rantai dipotong empat mata. Dengan pemotongan ini secara otomatis roda belakang akan menjorok kedepan beberapa centimeter. Nah, akhirnya memasuki tahap finishing yaitu permak warna.
Untuk memperoleh warna yang bervariasi Arnomo ambil tiga warna untuk tiap-tiap bagian. Pertama, body termasuk slebor (depan dan belakang, red) di cat warna picanto green. Warna ini akan terlihat yellow effec ketika terkena sinar matahari. Yang kemudian dimotif warna putih bergaris, ini membuat body collour tidak monoton. Kedua, rangka, shock, dan pelek-pelek dipoles warna doff tefflon. Warna yang menjadi andalan modif Arnomo pada modifikasinya kali ini. Sebagai pemanis Arnomo menambahkan warna merah venture pada bagian sirip-sirip mesin, shock breaker, dan caliper cakram belakang Rx-King milik cowok berbadan tinggi ini sudah hampir terkesan manis sampai pada tahap ini. Untuk pelengkap ia memasang beberapa accessories seperti head lamp milik Scorpio, speedometer tipe R, handle rem brembo, knalpot PDK, master gas Daytona dan pada stank dipasang stabilizer. Terakhir jok dikepras empat centimeter guna merampingkan sisi atas body. Akhirnya pengeprasan jok mengakhiri tugasnya. Rx-King standar dan kesan motor jambret kini telah berhasil di sihir Arnomo menjadi motor Sport Junkis dan Elegan.jambret kini telah berhasil di sihir Arnomo menjadi motor Sport Junkis dan Elegan.
Semua hasil ini dilakukan Armono tidak hanya sekedar cuma-cuma, butuh usaha dan karja keras. Butuh biaya sekitar 2,5 jutaan untuk menyempurnakanya, ”Semua biaya  untuk modifikasi ini hasil usahaku mengumpulkan sisa uang saku kuliah,” paparnya.
Arnomo patut bangga dengan hasil modifikasinya kali ini, karena di akhir tahun 2007 lalu sempat menjadi trend setter di salah satu majalah otomotif, dan ia pun berhasil menyabet juara II maskot club yang diadakan oleh salah satu produk rokok yang cukup terkenal belum lama ini. Terlebih yang membuat ia bangga adalah ketika cat doff tefflonnya menjadi trend para pecinta modif saat ini.(Dwie)

Kampung Laweyan Seanggun Batiknya

Kampung Batik Laweyan memang sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang tepatnya pada tahun 1546 M. Selain dikenal sebagai sentra batik, Laweyan juga terkenal dengan kelahiran tokoh besar seperi KH Samanhadi pendiri Serikat Dagang Islam (SDI) dan raja-raja Mataram. Baca selebihnya »

Abdi Intelektual Merakyat

Atribut kaum intelektual yang disandang mahasiswa mempunyai peran sebagai agen perubahan dalam masyarakat bahkan bangsa. Akan tetapi, atribut tersebut ternyata tidak lepas dengan citra negatif mahasiswa yang suka membuat keributan dan kerusakan dalam menyelesaikan masalah. Menjadi agen yang langsung bersentuhan langsung dengan masyarakat pun menjadi terasa jauh karena mahasiswa masih menemui kebingungan di lapangan. Namun setidaknya, niat mulia untuk mengubah masyarakat menjadi lebih baik dapat ditunjukkan dengan berbagai cara yang baik pula. Baca selebihnya »

Waspada !!! NII Gentayangi UMS

NII (Negara Islam Indonesia) merupakan gerakan Islam yang bertujuan untuk  mendirikan Negara Islam. Gerakan ini sebenarnya sudah muncul sejak lama dan baru-baru ini gerakan tersebut  mulai mencuat kembali di masyarakat terutama di lingkungan UMS sendiri. Baca selebihnya »

Sistem TOT Ideal, Mungkinkah ?

Setiap tahun di awal kepengurusan organisasi mahasiswa (ormawa), bidang kemahasiswaan UMS selalu mengadakan pembekalan kepada pengurus ormawa yang dikemas dalam format Training of Trainer (TOT). Namun dalam ranah praksis ternyata TOT dinilai belum bisa menjawab permasalahan yang ada pada mahasiswa dan masih menyisakan banyak persoalan.

Oleh: Dyah A. H. dan A. Mustopa Kamal

Ormawa sebagai wadah pengembangan bakat, minat dan kreativitas mahasiswa selayaknya mendapatkan perhatian serius dari pihak universitas maupun fakultas yang menaunginya. Fungsi ekstern ormawa bagi universitas memang sebagai salah satu syarat akreditasi sebuah universitas, namun bagi mahasiswa sendiri ormawa terlebih sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa sebelum terjun ke dunia yang sesungguhnya selepas kuliah nanti. Ibaratnya universitas sebagai “orang tua” sudah seharusnya memberikan bimbingan dan pengarahan kepada “anak”nya yakni ormawa dalam menjalankan aktivitasnya. Pengurus ormawa yang selalu berganti setiap tahun membuat pihak universitas harus selalu memberikan pemahaman ulang lagi setiap tahunnya mengenai pola pengembangan kemahasiswaan, bagaimana prosedur dan sistemnya yang wajib diketahui oleh semua pengurus ormawa. Tanpa adanya pemahaman dari universitas, pengurus ormawa bisa salah menafsirkan Surat Keputusan (SK) Rektor. Maka TOT merupakan wadah untuk mengetahui apa latar belakang timbulnya suatu kebijakan yang diberlakukan oleh universitas terhadap mahasiswa.

Sudharto selaku Kepala Urusan Organisasi, Minat dan Kesejahteraan Mahasiswa (Kaur Orminkes) mengungkapkan hal yang paling penting dalam TOT adalah penyatuan persepsi dalam menyikapi kebijakan-kebijakan rektor dan komitmen universitas dalam hal pembinaan kemahasiswaan. Komitmen disini artinya universitas memberikan sarana dan prasarana serta pendanaan bagi ormawa meskipun tidak secara optimal, karena kedua hal tersebut hanya bersifat sebagai subsidi saja, sehingga diharapkan mahasiswa bisa kreatif mencari donatur atau sponshorship dari luar universitas. Selain itu dalam TOT juga diberikan pengarahan bagaimana kerja intern organisasi dan interaksi keluar antar organisasi satu dengan yang lain.

TOT Belum Ideal
Pelaksanaan TOT selama ini dinilai belum cukup ideal. Dilihat dari pelaksaannya yang hanya berlangsung satu hingga dua hari, dirasakan masih sangat kurang oleh pengurus ormawa. Apalagi dalam format pelaksanaannya, para peserta TOT (pengurus ormawa-red) hanya diberikan teori saja tanpa ada pelatihan secara langsung sehingga mereka masih harus “meraba-raba” terhadap materi yang diperoleh. Aplikasi hanya dilakukan saat mahasiswa turun langsung ke “lapangan” dan itupun dengan trial and error tanpa ada penilaian dari universitas sebelumnya. Seperti yang diungkapkan oleh Slamet Riyanto, pengurus MUEC 2007/2008, ia merasa materi TOT masih kurang mengena karena waktu pelaksanaan yang singkat dan tidak ada aplikasinya secara langsung dalam acara tersebut. “Apalagi pelaksanaan materi TOT kemarin banyak yang melenceng dari time schedule awal, sehingga pelaksaannya kurang optimal,” ujarnya. Adiyadh Riyadh M. L selaku presiden BEM UMS 2008, juga mengatakan bahwa meskipun sudah digelar TOT, kenyataannya saat ini masih banyak kegamangan dan kurangnya pemahaman mahasiswa akan berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kemahasiswaan. kemahasiswaan.
Sudharto juga mengamini hal ini. Menurutnya dari sisi materi TOT sudah mencukupi akan tetapi dari sisi waktu masih kurang. “Saya rasa TOT belum ideal,” ungkap Sudharto ketika ditemui Pabelan Pos di ruang kerjanya. “Kalau melihat materinya sudah mencukupi untuk pembinaan kemahasiswaan, tapi untuk waktunya saya merasa masih sangat kurang,” jelasnya. Lebih lanjut Sudharto menjelaskan bahwa materi-materi dalam TOT belum semuanya disampaikan secara optimal. Di antaranya adalah sosialisasi tentang tata tertib mahasiswa dan aplikasi materi yang disampaikan dalam TOT. Sebagai contoh materi pembuatan proposal sponshorship yang sebenarnya harus disampaikan secara aplikatif ternyata hanya disampaikan secara teoritis saja.
Substansi dari TOT sendiri juga dirasakan kurang membawa perubahan pada mahasiswa. Seperti yang diungkapkan oleh KAMA Fakultas Teknik dalam press release-nya kepada Koran Pabelan beberapa pekan lalu menjelang pelaksanaan TOT 2008 yang menyatakan penolakan terhadap pelaksanaan TOT. Seluruh Keluarga Mahasiswa (KAMA) Fakultas Teknik yang terdiri dari sembilan organisasi tak hadir dalam pelaksanaan TOT Jumat-Sabtu (28-29/3) karena mereka menilai TOT tak membawa perubahan (Koran Pabelan edisi 29/II/Kamis, 3 April 2008). tak membawa perubahan (Koran Pabelan edisi 29/II/Kamis, 3 April 2008).
Menanggapi hal tersebut, Sudharto mengatakan bahwa jika mahasiswa menganggap TOT tidak penting adalah salah, karena dalam TOT ada kebijakan-kebijakan yang belum dipahami mahasiswa secara maksimal. “Anggapan ‘TOT paling seperti itu’ adalah anggapan yang salah, karena dalam TOT ada kebijakan-kebijakan yang belum dipahami secara maksimal oleh mahasiswa. Sehingga dalam pelaksanaannya akan terjadi benturan-benturan,” kata Sudharto.
Dia menambahkan meskipun materi TOT sama dari tahun ke tahun, pengurus baru tetap harus tahu tentang pola-pola pengembangan mahasiswa. “Seharusnya tanpa dimintapun mahasiswa tetap datang TOT, karena itu menjadi semacam kebutuhan bagi mahasiswa,” ujarnya lagi.

TOT Masih Jauh dari Konsep Training Sesungguhnya
“Training merupakan self impowerment atau upaya pemberdayaan diri yang sifatnya progresif yakni maju ke depan dengan perubahan yang positif,” jelas Soleh Amini Yahman, dosen Psikologi UMS. Sedangkan tujuan dari training adalah untuk meningkatkan kualitas konsep training yang sesungguhnya. Hal itu dapat dilihat pertama dari metode yang digunakan hanya ceramah saja, sehingga tujuan yang diharapkan tidak mengena. “Yang dilakukan bidang kemahasiswaan selama ini (TOT-red) bukan training, tetapi baru tahap orientasi pada penyamaan persepsi tentang kemahasiswaan,” ujarnya. Ke-dua, jumlah peserta TOT yang mencapai ratusan, padahal training paling efektif apabila jumlah pesertanya 20 hingga 30 orang. individu dengan cara mengaktualkan potensi-potensi yang sebelumnya sudah ada. Soleh Amini juga menjelaskan bahwa training berbeda dengan pendidikan. “Pendidikan merupakan proses pembelajaran, berangkat dari nol atau tidak tahu, sedangkan training merupakan follow up dari proses pembelajaran tersebut,” kata Soleh Amini. Melihat pelaksanaan TOT ormawa yang dilakukan bidang kemahasiswaan selama ini, pakar training ini mengungkapkan bahwa TOT ormawa masih jauh dari konsep training yang sesungguhnya. Hal itu dapat dilihat pertama dari metode yang digunakan hanya ceramah saja, sehingga tujuan yang diharapkan tidak mengena. “Yang dilakukan bidang kemahasiswaan selama ini (TOT-red) bukan training, tetapi baru tahap orientasi pada penyamaan persepsi tentang kemahasiswaan,” ujarnya. Ke-dua, jumlah peserta TOT yang mencapai ratusan, padahal training paling efektif apabila jumlah pesertanya 20 hingga 30 orang.
Melihat ketidaksesuaian yang telah disebutkan di atas, Soleh Amini mengatakan bahwa TOT ormawa perlu dirombak sistemnya. Mengenai pelaksanaannya ia mengatakan TOT harus dilakukan dalam dua session. Pertama adalah session umum atau tahap orientasi yakni dengan mengumpulkan semua ormawa untuk penyamaan persepsi tentang kemahasiswaan. Selanjutnya dilakukan klasifikasi ormawa menurut bidangnya, setelah itu baru diberikan training. “Setiap UKM mempunyai motivasi yang berbeda sehingga semua UKM tidak bisa digeneralisir,” jelasnya. Lebih lanjut Soleh Amini mengungkapkan tentang pengadaan training idealnya adalah dua kali dalam satu tahun kepengurusan tetapi dengan tingkatan yang berbeda, training pertama tingkat dasar dan training ke-dua tingkat madya.

Dana Kemahasiswaan Kurang Transparan
Di antara sekian permasalahan dalam TOT adalah tentang anggaran dana kemahasiswaan untuk masing-masing ormawa baik di tingkatan fakultas maupun universitas. Banyak yang menilai bahwa pihak universitas kurang transparan dalam menyampaikan anggaran dana kemahasiswaan, sehingga ormawa hanya “terima jadi”nya saja. Universitas tidak memberikan penjelasan mengenai dasar atau pedoman anggaran dana untuk masing-masing UKM. Sehingga yang terjadi adalah ketidakpuasan pada mahasiswa karena ada beberapa ormawa yang merasa anggaran dananya masih belum bisa memenuhi kebutuhannya.
Riyadh mengatakan bahwa pada dasarnya materi TOT sudah bagus asalkan materi satu dengan yang lain disampaikan secara proporsional. Namun dia menyayangkan masalah pendanaan yang tidak dimasukkan ke dalam materi sehingga universitas terkesan tidak transparan dalam hal pendanaan. “Pada dasarnya materinya bagus, ketika masalah pendanaan dimasukan kedalam materi sebenarnya tidak masalah, asalkan porsi materi yang diberikan harus sesuai dengan porsi materi yang lainnya,” ujar Riyadh.
Disinggung masalah pendanaan, Sudharto mengatakan bahwa sebenarnya hal itu ada rumusannya akan tetapi memang tidak disampaikan kepada mahasiswa. Ia menganalogikan dengan sebuah sekolah yang menetapkan sebuah kebijakan, tidak mungkin melibatkan para siswa di sekolah tersebut karena mereka hanya sebagai pengguna jasa pendidikan saja. begitu juga halnya dengan rancangan anggaran dana kemahasiswaan. Selanjutnya ia menjelaskan, sebelum TOT dilaksanakan ada rapat antara bidang kemahasiswaan dengan Wakil Dekan III (WD III) untuk membahas konsep penentuan dana per fakultas yang kemudian menghasilkan rumusan-rumusan. Pertimbangan-pertimbangnanya diperoleh dari perbandingan jumlah mahasiswa, jumlah lembaga, jumlah mahasiswa baru serta pengembangan masing-masing fakultas. Begitu juga dengan anggaran dana untuk ormawa di tingkat universitas juga sudah dirumuskan. kemudian menghasilkan rumusan-rumusan. Pertimbangan-pertimbangnanya diperoleh dari perbandingan jumlah mahasiswa, jumlah lembaga, jumlah mahasiswa baru serta pengembangan masing-masing fakultas. Begitu juga dengan anggaran dana untuk ormawa di tingkat universitas juga sudah dirumuskan.

Workshop, Alternatif Pengganti TOT

Mengingat bahwa TOT yang dilaksanakan selama ini belum ideal dan masih menyisakan banyak persoalan di tataran praksis, muncul wacana baru diadakannya workshop sebagai alternatif pengganti TOT. Contain workshop yang disertai aplikasi, bukan hanya materi, dirasakan lebih tepat dibandingkan TOT. Sehingga dengan diadakan workshop, diharapkan permasalahan-permasalahan yang masih mengambang dalam TOT bisa terjawab. Seperti halnya untuk materi sponsorship yang membutuhkan praktek langsung tidak mungkin dilakukan dalam TOT, tetapi hal itu bisa diadakan dalam format workshop. Selain itu untuk pembahasan masalah anggaran memang workshop-lah yang paling tepat, bukan TOT. Seperti yang dikemukakan oleh Riyadh bahwa anggaran dana yang disampaikan dalam TOT tidak substansial, karena ormawa tidak mengerti tentang rumusan anggaran yang dikeluarkan oleh pihak universitas dan pedoman apa yang mereka gunakan dalam perumusan anggaran tersebut. “Kita (ormawa-red) tidak tahu pedoman yang dijadikan untuk plotingan anggaran itu berasal darimana, statuta UMS atau pedoman lainnya. Kalau ormawa bisa mengerti dan paham akan pedoman yang disampaikan dalam anggaran dana kemahasiswaan ini bagus untuk ke depannya. Dan saya berharap workshop bisa menjawab akan hal ini, “ imbuh Riyadh.
Mengenai format ideal workshop, menurut Riyadh pelaksanaannya harus dilakukan secara berjenjang dan tidak parsial agar transformasi pemahaman dari universitas kepada mahasiswa bisa terserap seluruhnya.. Selain itu bukan hanya WR II saja yang terlibat, tetapi juga WR I dan WR II karena ketiga bidang tersebut saling terkait satu sama lain. Dan untuk mendukung suksesi acara ini, Riyadh menambahkan harus ada konsolidasi dan koordinasi pra workshop di tataran ormawa, hal ini dimaksudkan agar ada kesepahaman di antara pihak universitas dan mahasiswa akan acara itu sendiri.
Menanggapi hal ini, Sudharto tidak mempermasalahkan mengenai format apapun yang digunakan asalkan tujuan dari agenda tersebut tercapai dan bisa membawa perubahan yang lebih baik ke depan, dan yang terpenting adalah mahasiswa paham akan substansi acara itu sendiri. “Format apapun sepanjang itu menuju ke arah ke depan yang lebih baik, why not?” ujar Sudharto santai.
Meskipun demikian, kata Sudaharto, workshop tidak bisa sepenuhnya dilakukan karena tetap ada kekurangan pada format workshop tersebut. Di satu sisi workshop memang tepat untuk penjelasan dan pemahaman kebijakan, akan tetapi tidak bisa dijadikan tempat untuk pembahasan kebijakan.
Mengenai rencana TOT selanjutnya yang akan diadakan sekitar bulan Februari atau Maret 2009, Sudharto mengatakan bahwa TOT kemungkinan akan tetap dilaksanakan seperti sebelumnya, hanya saja settingan format dan materinya lebih disempurnakan. Sebelum pelaksanaan TOT, pihaknya (universitas-red) akan mengadakan audiensi dulu dengan mahasiswa untuk menampung aspirasi dari mahasiswa mengenai pelaksanaan TOT. Sudharto juga akan mempertimbangkan masukan yang ada mengenai konsep dan sistem pelaksanaan agenda tersebut.
Apapun format yang akan digelar untuk TOT ke depan, apakah tetap menggunakan sistem TOT atau workshop, atau dilakukan perombakan sistemnya dengan dua session pelaksanaan, diharapkan bisa menjawab permasalahan ormawa di tataran praksis dan bisa memenuhi kebutuhan mahasiswa. Dan diharapkan universitas bisa lebih transparan lagi dalam menyampaikan kebijakan-kebijakannya terhadap mahasiswa sehingga bisa meminimalisir kesalahpahaman pada mahasiswa.]

Wawancara Eksklusif dengan Prof.Dr.Hj.Markhamah, M.Hum.

Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) setiap tahunnya masih menyisakan banyak pesoalan. Mulai dari kasus kebocoran soal hinga kasusu kecurangan lainnya. Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa kasus-kasusu semacam itu melibatkan oknum guru. Lalu, apakah sistem ini masih bisa sipertahankan?

Oleh: Septiandi

Melihat perkembangan sistem pendidikan saat ini di Indonesia (sebagai contoh pelaksanaan UN), menurut ibu apakah sudah bisa dikatakan ideal ?

Kalau dihubungkan dengan KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), menurut saya sistem UN (Ujian Nasional) saat ini kurang sesuai, karena soal yang diberikan bersifat nasional. Sedangkan KTSP itu lebih mengakomodir kebutuhan lokal atau potensi lokal, jadi ya kurang pas. Harus ada kisi-kisi secara umum mengenai apa yang diujikan, tetapi materinya berbeda dengan daerah. Singkatnya, mesti ada pembagian sekian persen soal yang bersifat umum, sekian persen yang lokal atau daerah. Sehingga dengan cara seperti itu potensi lokal bisa terwakili, tidak seperti yang terjadi saat ini. Cuma, implementasi seperti itu sangat sulit. Memang tiap  KTSP berbeda-beda, tetapi dari yang berbeda itu ada yang bersifat umum.

Banyak kasus kecurangan yang terjadi selama pelaksanaan UN tahun ini mengindikasikan bahwa masih ada kelemahan dalam sistem pendidikan kita, bagaimana sebaiknya ?

Masalah kecurangan yang terjadi selama pelaksanaan UN, saya belum berani berkomentar apakah itu benar-benar suatu bentuk kecurangan atau bukan. Karena itu belum bisa dibuktikan kebenarannya dalam artian saya tidak bisa menyatakan curang atau tidak.

Siswa saat ini banyak yang menghalalkan segala cara demi memperoleh nilai tinggi, apakah pendidikan saat ini sudah keluar dari tujuan awal ?

Saya rasa tidak, jadi selama ini memang yang dipakai untuk dasar kompetensi itu adalah nilai. Ketika para siswa mengejar nilai sebagai tujuan akhir secara tidak langsung mereka melewati sebuah proses. Bagi seorang siswa nilai memang menjadi nomor satu. Dan sekali lagi kompetensi itu yang diukur adalah nilai. Yang penting adalah mereka berusaha untuk memperoleh nilai tinggi.

Bagaimana dengan seorang pendidik (guru) yang justru tidak bertindak sebagaimana mestinya seorang guru (melakukan kecurangan) ketika melihat realitas UN yang terjadi saat ini ?

Dalam batas-batas tertentu hal itu dibolehkan, namun dibatas-batas lain seorang guru akan berupaya bagaimana hasilnya agar baik. Kalau kita melihat lebih jauh, itu merupakan bentuk tanggung jawab seorang guru dalam mendidik siswanya sampai pada titik perjuangan akhir, apapaun akan dilakukan agar anak didiknya berhasil lulus. Namun, pada tataran ideal hal tersebut tidak boleh dilakukan. Singkatnya, apapun boleh dilakukan selama jangan sampai keluar koridor.  lulus. Namun, pada tataran ideal hal tersebut tidak boleh dilakukan. Singkatnya, apapun boleh dilakukan selama jangan sampai keluar koridor.

Lalu, kalau dikomparasikan dengan kebutuhan pasar  atau dunia kerja,  seberapa siapkah kita ?

Menurut saya itu dua hal yang berbeda. Dunia kerja sebenarnya menuntut lebih pada keterampilan dan manajemen, sementara itu keterampilan dan manajemen tidak cukup dinilai dari UN. Dan ini harus ada uji keterampilan dan uji material. Kebutuhan dunia kerja tidak sekedar kompetensi akademik, tetapi kompetensi manajerial. Tidak hanya kecerdasan intelektual, namun harus diimbangi dengan kecerdasan yang lain, seperti kecerdasan emosional, spiritual, dll.

Bagaimana harapan sistem UN Kedepannya ?

Walaupun masih ada kelemahan, harus ada perbaikan-perbaikan, dan disadari atau tidak perbaikan tersebut memerlukan proses yang panjang. Ini tidak hanya tugas seorang Menteri Pendidikan dan Pemerintah Pusat, tetapi tugas seluruh komponen bangsa ini untuk menciptakan sistem pendidikan yang baik.

Penambaha Standar Kelulusan, Penambahan Beban Psikis Siswa

tertekan dan khawatir kerap menyelimuti Rini, salah satu peserta UN 2008. ”Kadang perasaan jenuh itu ada rasanya  pengen refreshing capek menghadapi soal,” ungkapnya. Standar Kompetensi Lulusan yang melambung tinggi juga menjadi momok tersendiri bagi siswa. ”Apalagi standar kelulusan yang begitu tinggi, kalau sedang mengerjakan membuat saya tidak tenang,” tambahnya saat ditemui Pabelan Pos, Rabu (23/4).
Di tempat yang sama, Etik, peserta UN 2008 mengeluhkan penambahan mata pelajaran yang diujikan menjadi beban tersendiri baginya. Hal tersebut dikarenakan mata pelajaran yang diujikan dari tiga mata pelajaran menjadi enam mata pelajaran. ”Saya harus belajar ekstra bahkan saya jenuh menghadapi soal-soal, belum lagi penambahan mata pelajaran,” tandasnya.
Di tempat terpisah, Yoga, yang juga peserta UN 2008 mengaku soal adanya perbedaan yang signifikan antara soal UN dan soal latihan selama ini, soal UN dirasa lebih sulit. ”Belum terbebani dengan standar 5.25, malah soal UN kebanyakan lebih sulit dari pada soal latihan membuat saya pesimis dengan jawaban saya,” keluhnya.
Tekanan psikis yang dialami siswa juga menjadi perhatian khusus bagi Endang Sri K, Kepala Sekolah SMUN 7 Surakarta. Beliau mengungkapkan adanya tekanan pada siswa menjelang UN. ”Otomatis ada tekanan karena memang ujian penentuan masa depan,” tegasnya.
Menanggapi hal itu, Juliani Prasetyaningrum pakar psikologi mengungkapkan, kekhawatiran ketidaklulusan dapat dijadikan sebagai motivasi belajar yang tinggi.  ”Ketakutan ketidaklulusan itu menjadi stressor yang mana jika itu bisa di manage atau ditangani bisa menjadi pemacunya (penyemangat, red),” ungkapnya. Di sisi lain, beliau juga menambahkan kekhawatiran tersebut juga dapat berakibat buruk pada saat ujian berlangsung. ”Jika stressor tidak dapat di-manage, maka ketakutan itu  menjadi momok, sesuatu yang menakutkan dan bisa mengganggu performance,” jelas Juliani disela-sela kesibukannya. Dengan kata lain, stres mempengaruhi performance. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa stres dalam taraf tertentu dapat berakibat positif. Dengan adanya stres yang proposional dapat menjadi pendorong untuk bekerja lebih keras. Sedangkan stres negatif muncul ketika subjek tidak mampu menangani atau mencari solusi dari stresnya itu berpengaruh terhadap performancenya.

”Ketakutan ketidaklulusan itu menjadi stressor yang mana jika itu bisa di manage atau ditangani bisa menjadi pemacunya (penyemangat, red),” ungkapnya. Di sisi lain, beliau juga menambahkan kekhawatiran tersebut juga dapat berakibat buruk pada saat ujian berlangsung. ”Jika stressor tidak dapat di-manage, maka ketakutan itu  menjadi momok, sesuatu yang menakutkan dan bisa mengganggu performance,” jelas Juliani disela-sela kesibukannya. Dengan kata lain, stres mempengaruhi performance. Selain itu, beliau juga menambahkan bahwa stres dalam taraf tertentu dapat berakibat positif. Dengan adanya stres yang proposional dapat menjadi pendorong untuk bekerja lebih keras. Sedangkan stres negatif muncul ketika subjek tidak mampu menangani atau mencari solusi dari stresnya itu berpengaruh terhadap performancenya.

Bimbel Sebagai Tempat Pelarian
Menjelang UN merupakan momentum yang tepat bagi bimbel untuk mengeksplorasi diri. Pasalnya, momentum itulah gencar-gencarnya bimbel melakukan promosi ke siswa. Akan tetapi dari beberapa pendapat, kurangnya pengaruh bimbel luar sekolah dirasakan oleh beberapa siswa kelas tiga SMA. ”Pengaruh bimbel kecil terhadap soal UN karena yang diajarkan di bimbel hanya hitungan saja, teorinya kurang,” kata siswi kelas tiga salah satu SMA di Surakarta, Etik, saat ditemui Pabelan Pos setelah UN berlangsung. Ketika ditanya mengenai alasan utama ikut bimbel, dia mengatakan untuk persiapan UN dan meminimalisir kekhawatiran tidak bisa mengerjakan. ”Ikut bimbel untuk persiapan UN, paling tidak kalau sudah ikut ya hati menjadi tenang,” tambahnya. sudah ikut ya hati menjadi tenang,” tambahnya.
Sedangkan menurut salah satu siswa SMA Negeri di Surakarta, Yoga, mengaku materi yang diajarkan oleh bimbel ada yang berpengaruh dan tidak. ”Dari bimbel lebih banyak mengerjakan soal hitungan, sedangkan UN-nya seperti kimia kebanyakan teori,” ungkapnya selepas hari terakhir UN.
Terpisah, Tri Agus Suhartono, Ketua Bimbel Primagama Cabang Manahan mengatakan bimbingan belajar pada dasarnya membantu siswa yang kesulitan belajar. ”tujuan bimbel kan membantu belajar siswa,”ungkapnya. Strategi selama ini yang yang diberikan bimbel ketika menjelang UN adalah men-drill siswa dengan soal-soal yang disesuaikan SKL.”kami (bimbel-red) tidak memberikan materi, Trik dari kami adalah men-drill siswa dengan soal-soal,”tambahnya. Soal yang diberikan dari bimbel selain disesuaikan dengan SKL juga disesuaikan dengan kurikulum.”soal sesuai SKL dan kurikulum,”tutupnya.
Peran Bimbel ternyata tidak hanya sebagai tempat memperdalam edukasi saja, akan tetapi dapat juga dijadikan sebagai alternatif lain untuk meminimalisir kekhawatiran. ”Bimbel merupakan tempat pelarian dalam batas-batas dan orang-orang tertentu, tetapi itu bukan kesimpulan signifikan. Bimbel dapat menjadi alternatif untuk mengurangi stres,” ujar Juliani Prasetyaningrum, pakar psikologi yang juga sebagai dosen psikologi UMS saat ditemui Pabelan Pos Senin (28/4) di ruang kerjanya. Terlebih apabila bimbel didukung tutor yang kompeten maka fungsi edukasinya sangat optimal. ”Jika bimbel atau tutor diberikan oleh orang yang kompeten dan itu untuk membantu memahami materi lebih optimal, ” tambahnya.diberikan oleh orang yang kompeten dan itu untuk membantu memahami materi lebih optimal, ” tambahnya.
Sementara itu, pakar pendidikan Harun Joko Prayitno, berpendapat bahwa tidak menutup kemungkinan peran bimbel justru akan mengebiri peran orang tua dan guru. ”Pada bimbel sebenarnya terjadi pendangkalan materi melalui metode pembelajaran, disisi lain bimbel dapat juga memotong proses belajar, memotong peran dan kewajiban orang tua, memotong peran dan kewajiban guru.” ungkapnya kepada Pabelan Pos, Senin (28/4).

Upaya Menghindari Beban Psikis
Berbagai cara dilakukan baik pihak sekolah maupun siswa itu sendiri demi mengurangi beban psikis siswa yang dirasa semakin berat. Kepala Sekolah SMAN 7 Surakarta, Endang Sri K, saat ditemui Pabelan Pos di kantornya, Rabu (23/4), menyatakan pihak sekolah melakukan upaya meminimalisir beban psikologi siswa.” Usaha dari sekolah yaitu latihan ujian dan doa bersama,” ungkapnya. Ketika ditanya mengenai terapi khusus bagi siswa beliau mengatakan bahwa sejauh ini belum ada. ”Kami belum melangkah kearah itu”, tambahnya.
Hal senada juga diungkap Hariyanto, guru mapel Akuntansi SMAN 4 Surakarta. Beliau mengaku pihak sekolah sejauh ini hanya memberikan refreshing dan doa bersama. ”Upaya terapi belum ada, kami memberikan refreshing semacam hari tenang dan doa bersama saya rasa sudah cukup,” ungkapanya Rabu (23/4).
Di lain pihak, Yoga, siswa SMU kelas tiga mengaku jika stres melanda dirinya hanya melakukan pekerjaan yang dia senangi sebagai upaya merefreshkan pikirannya, ”biasanya saya makan dan nonton TV saat jenuh belajar,” ungkapnya.
Berbeda dengan Rini, yang juga peserta UN mengaku upaya yang dilakukan adalah makan coklat, ”saya makan coklat kalau stres datang,” akunya. Menurut Juliani Prasetyaningrum, stres yang dialami siswa dapat diminimalisir oleh siswa itu sendiri. ”Stres dapat diminimalisir dengan memanage stres yang bersifat individual atau personal,” ungkapnya. Menurutnya hal tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara subjek mandalami penyebab stressor dan di deskripsikan. Kemudian subjek membayangkan hal paling buruk yang mungkin terjadi dari rasa takutnya. Lantas subjek mencari solusi dari hasil retrospeksi diatas. Dan solusinya itu dipersiapkan sebelum subjek menghadapi langsung stressornya.]

Penambahan Standar Kelulusan,Penambahan Psikis Siswa

Peningkatan standar kelulusan dan pnambahan mata pelajaran yang diujikan menjadi senjata utama pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan. Alhasil, beban psikis yang dialami siswa pun semakin bertambah pula. Baca selebihnya »

Progdi Baru: Jurus Menggaet Pasar

Inggris, Al-Islam, dan Kemu-hammadiyahan.

Sarana Lab
Perubahan kurikulum belum sejalan dengan peningkatan sarana laboratorium yang memadai. Hal ini masih terkendala diwilayah operasional atau peralatan pendukung laboratorium yang belum memadai, mengingat fungsi laboratorium sebagai ajang pengaplikasian teori-teori yang ada dalam perkuliahan membantu mahasiswa dalam penyerapan materi. ”Sebenarnya pada tahun 2002 kurikulum Geografi sudah dibentuk dengan basis laboratorium, namun terkendala di wilayah operasional dalam artian pada tataran konsep kurikulum sebenarnya sudah matang, tapi terbentur oleh sarana laboratorium yang belum mendukung,” tambahnya.
Sementara itu, di tempat terpisah  Musyiam mengatakan, sistem laboratorium di UMS yang dipakai yaitu ‘Common Us’ dengan kata lain laboratorium yang sama dipakai dari berbagai program studi, penerapan sis-tem semacam ini dalam rangka efisiensi sarana praktikum. “Itu (common us, red) lebih efisien,” tukasnya. Penerapan ‘Common Us’ hanya pada mata kuliah tertentu yang sifatnya umum semisal Fisika. Namun tidak seluruh prodi menggunakan sarana laboratorium yang sama, ada beberapa prodi yang benar-benar memerlukan sarana laboratorium khusus seperti Geografi, Kedokteran, dan Ilmu Komunikasi.

Pentingnya Sosialisasi
Ketatnya persaingan antar Perguruan Tinggi Swasta dalam menjaring siswa baru memang tidak bisa dielakkan. Berbagai program ditawarkan dengan keunggulannya masing-masing sebagai strategi menggaet calon siswa. Namun, persoalan yang ada semakin kompleks dan melebar sehingga minat siswa terhadap sebuah prodi tertentu menjadi minim. Kecenderungan yang terjadi di masyarakat saat ini sudah mulai bergeser terhadap prodi-prodi tertentu, seperti pada prodi Ekonomi Pembangunan, Ushuluddin, dan Geografi. Secara makro, fenomena ini memberikan dampak yang kurang baik terhadap beberapa Perguruan Tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan minat para siswa terhadap beberapa prodi tersebut. Sangat disayangkan fenomena seperti ini berakibat pada penutupan prodi tertentu yang dianggap kurang memenuhi kuota minimal. “Program studi Ilmu Kesehatan terpaksa kami tutup karena hanya tujuh mahasiswa yang mendaftar,” jelas Musyiam. Faktor dominan yang paling mempengaruhi menurunnya minat siswa akan prodi tertentu adalah image dan kebutuhan pasar yang masih lemah. Ini didorong dengan masih kurangnya pengetahuan masyarakat itu sendirimelebar sehingga minat siswa terhadap sebuah prodi tertentu menjadi minim. Kecenderungan yang terjadi di masyarakat saat ini sudah mulai bergeser terhadap prodi-prodi tertentu, seperti pada prodi Ekonomi Pembangunan, Ushuluddin, dan Geografi. Secara makro, fenomena ini memberikan dampak yang kurang baik terhadap beberapa Perguruan Tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan penurunan minat para siswa terhadap beberapa prodi tersebut. Sangat disayangkan fenomena seperti ini berakibat pada penutupan prodi tertentu yang dianggap kurang memenuhi kuota minimal. “Program studi Ilmu Kesehatan terpaksa kami tutup karena hanya tujuh mahasiswa yang mendaftar,” jelas Musyiam. Faktor dominan yang paling mempengaruhi menurunnya minat siswa akan prodi tertentu adalah image dan kebutuhan pasar yang masih lemah. Ini didorong dengan masih kurangnya pengetahuan masyarakat itu sendiri
Sementara itu, menurut Yuli Priana selaku Dekan Fakultas Geografi mengungkapkan ada dua faktor yang mempengaruhi penurunan minat mahasiswa terhadap Fakultas Geografi,  pertama faktor ekstern yaitu PTN sekarang membuka banyak program studi sehingga calon mahasiswa lebih terserap ke- sana. Sedangkan faktor intern itu sendiri dari jumlah pendaftar yang relatif berkurang. ”Namun secara umum masih baik,” tuturnya. Selain itu masyarakat saat ini masih banyak yang ti-dak tahu akan Geografi se-hingga mempengaruhi minat calon mahasiswa itu sendiri.
Perkembangan ilmu Geografi di Indonesia memang belum seperti negara-negara maju di- dunia. Pemahaman masyarakat Indonesia yang masih awam akan geografi itu sendiri agaknya menjadi kendala bagi Perguruan Tinggi Swasta khususnya UMS dalam menjaring lebih banyak siswa. Berbagai upaya dilakukan pihak Fakultas untuk lebih memberikan informasi kepada masyarakat akan ilmu Geografi yang sebenarnya. Mulai dari seminar hingga sosialisasi ke sekolah-sekolah. Amin menuturkan, kegiatan seperti itu (sosialisasi, red) sudah dilaksanakan oleh pihak Fakultas Geografi sejak tahun 1997 atau yang disebut PPAG (Pengenalan dan Penerapan Alat-Alat Geografi). Awal mulanya program tersebut berjalan sebatas sosialisasi dan tidak ada keterikatan antara kedua belah pihak yang saling bekerjasama, namun pada tahun 2002 mulai digagas semacam nota kesepahaman (MoU) sehingga terjalin simbiosis mutualisme.khususnya UMS dalam menjaring lebih banyak siswa. Berbagai upaya dilakukan pihak Fakultas untuk lebih memberikan informasi kepada masyarakat akan ilmu Geografi yang sebenarnya. Mulai dari seminar hingga sosialisasi ke sekolah-sekolah. Amin menuturkan, kegiatan seperti itu (sosialisasi, red) sudah dilaksanakan oleh pihak Fakultas Geografi sejak tahun 1997 atau yang disebut PPAG (Pengenalan dan Penerapan Alat-Alat Geografi). Awal mulanya program tersebut berjalan sebatas sosialisasi dan tidak ada keterikatan antara kedua belah pihak yang saling bekerjasama, namun pada tahun 2002 mulai digagas semacam nota kesepahaman (MoU) sehingga terjalin simbiosis mutualisme.
Terkait dengan sosialisasi, beberapa waktu yang lalu diselenggarakan seminar de-ngan guru-guru SMU se-Jawa Tengah. Ketika ditanya mengenai seminar yang dilaksanakan beberapa waktu lalu dalam rangka menyusun sebuah kurikulum baru, Amin pun menampiknya. “Seminar dengan guru-guru SMU se-Jateng yang diselenggarakan beberapa waktu lalu sebenarnya tidak dalam rangka menyusun sebuah konsep kurikulum yang baru, namun dalam pertemuan tersebut lebih sebagai ajang sosialisasi kepada SMU-SMU akan ilmu geografi yang sebenarnya. Dengan sosialisasi tersebut, diharapkan bisa mengukur sejauh mana perkembangan ilmu Geografi yang diajarkan di sekolah-sekolah,” tukasnya.

Geografi Buka Prodi Baru ?
Melihat perkembangan institusi pendidikan yang semakin melebarkan sayapnya dengan membuka prodi baru sebagai pemenuhan kebutuhan pasar tergantung dari sisi mana kita melihat, amin menegaskan, dari sisi kebutuhan manajemen institusi swasta, ya bisa dikatakan sebagai pemenuhan kebutuhan pasar.
Untuk itu, perkembangan tenaga pengajar yang semakin dibutuhkan, memunculkan inisiatif dari pihak Fakultas untuk membuka prodi baru yakni Program Studi Pendi-dikan Geografi. Program yang rencananya dibuka pada tahun ajaran 2009/2010 ini memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar akan tenaga pendidik di bidang Geografi. “Insya Allah tahun ajaran depan Fakultas Geografi akan membuka prodi baru yaitu FKIP Geografi,” jelas Yuli Priana.
Namun, pembukaan prodi FKIP Geografi secara adminis-tratif tetap di bawah naungan FKIP. Sebab, itu merupakan sebuah aturan yang baku, “itu sudah ada konsorsiumnya, jadi, tidak bisa kita mengubah atau melanggar konsorsium tersebut,” tegas Yuli.
Didalam jurusan Pendidikan Geografi nantinya, aspek pe-dagogik memang sangat ditonjolkan. ”Hal ini penting, karena terkait dengan kemam-puan mengajar seorang pen-didik yang mesti diasah terus me-nerus,” cetus Amin Sunarhadi.
Sebenarnya di Fakultas Geografi sendiri ada tiga prodi, yang pertama Geografi MIPA seperti yang ada sekarang ini, yang kedua Geografi Ling-kungan, dan yang ketiga Pendidikan Geografi. “Namun semua itu kembali ke meka-nisme pasar, artinya kita me-lihat kebutuhan pasar yang ada saat ini,” ungkapnya. Untuk Prodi Geografi Lingkungan memang belum bisa dibuka, karena minat masyarakat akan jurusan tersebut belum begitu tinggi. Tidak seperti Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan seperti yang ada saat ini yang setiap tahunnya mengalami kenaikan jumlah mahasiswa, tutup Yuli.]

Progdi Baru: Jurus Menggaet Pasar

Belum cukup dengan Prodi (Program Studi) yang ada saat ini, UMS kedepannya masih berambisi membuka beberapa prodi baru. Lalu, apakah kurikulum yang ada selama ini belum mampu menjawab kebutuhan pasar ? Bagaimana pula dengan nasib Prodi yang kekurangan peminat ? Baca selebihnya »